KETIK, SURABAYA – Politik kerap dianggap sesuatu yang kotor dan tidak penting oleh sebagian kalangan. Namun, anggapan itu ditepis oleh seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang Trio Agus Purwono saat berdialog bersama mahasiswa magang di Kantor Ketik.com di Surabaya, Jumat, 20 Februari 2026.
Menurut dia, politik justru merupakan keterampilan yang pasti ada di setiap sejarah kehidupan.
“Politik itu seni untuk meraih tujuan atau kekuasaan. Di mana pun pasti ada politiknya, bahkan mahasiswa pun sebenarnya berpolitik,” ujar Trio sapaan akrabnya.
Praktik politik, kata dia, tidak hanya terjadi dalam konteks negara, tetapi juga di lingkungan kampus. Ia mencontohkan dinamika pemilihan rektor maupun Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) yang sangat tinggi persaingan.
“Tidak mungkin landai-landai saja. Monggo monggo siapa yang mau jadi ketua, nggak ada yang kayak gitu. Pasti ada dinamikanya. Itu juga bagian dari politik,” tegasnya.
Trio menjelaskan, Indonesia menganut sistem demokrasi, yang mana kepemimpinan dipilih berdasarkan suara terbanyak, bukan diwariskan seperti sistem pada kerajaan. Dalam demokrasi, rakyat memberikan mandat kepada pemimpin untuk menjalankan pemerintahan sesuai peraturan perundang-undangan.
“Hari ini kita memberikan mandat kepada presiden. Selama tidak melanggar undang-undang, kebijakan itu sah dijalankan,” ujar Wakil Ketua DPRD Malang tersebut.
Namun demikian, kekuasaan dalam demokrasi tetap dibatasi. Masa jabatan pemimpin dibatasi maksimal dua periode agar tidak terjadi dominasi kekuasaan yang berkepanjangan.
Lebih lanjut, ia memaparkan konsep trias politika dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, yakni pembagian kekuasaan menjadi eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Di tingkat daerah, DPRD termasuk dalam rumpun legislatif yang memiliki tiga fungsi utama, yakni legislasi, anggaran dan pengawasan.
“Kalau kepala daerah tidak diawasi, potensi penyalahgunaan kewenangan bisa terjadi. Karena dia bisa membuat aturan, mengelola pajak, dan menjalankan program. Maka perlu keseimbangan,” ujar mantan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Brawijaya itu.
Di akhir pemaparannya, legislator asal Fraksi PKS itu mengajak mahasiswa magang untuk tidak alergi terhadap politik. Menurutnya, generasi muda harus memperkuat mental, meningkatkan kemampuan adaptasi, dan memiliki orientasi masa depan. Dunia ini hanya milik orang-orang yang bekerja dengan keras.
"Kalau nggak begitu, kita akan tergilas oleh zaman. Hidup ke depan bukan semakin mudah, tapi semakin menantang. Dunia ini milik orang-orang yang bekerja keras. Kita mau jadi penonton atau pemain?," pungkasnya. (*)
