KETIK, SURABAYA – Mencari sensasi hangat di kawasan Gunung Anyar Surabaya, rasanya tak lengkap jika belum melirik gerobak sederhana milik Paidi. Menyuguhkan Pentol Troloyo, pria asal Malang itu punya cerita unik di balik kepul asap dagangannya yang selalu mangkal di samping rumah mantan Menteri Pendidikan, Prof Mohammad Nuh.
Bagi para pecinta kuliner kaki lima, nama “Troloyo”mungkin terdengar unik. Usut punya usut, nama tersebut bukan pemberian sembarangan.
Paidi mengaku sekitar dua bulan ini terjun ke dunia “perpentolan”. Langkah ini ia ambil lantaran sulitnya mencari lapangan pekerjaan di masa sekarang. Beruntung, ia bertemu dengan Catur, Seorang teman dari Pakis Timur, Mojokerto, yang rutin mengirimkan stok pentol ke Surabaya untuk ia jual kembali.
“Cari kerja itu sulit, jadi ada yang menolong suruh jualan pentol aja,” kenang Paidi.
Dari total pendapatan kotor sekitar Rp500.000 per hari, Paidi menyisihkan Rp300.000 untuk stok pentol berikutnya, Rp50.000 untuk belanja bumbu atau pelengkap, dan mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp150.000.
Gerobak pentol Paidi yang mangkal di Jalan Gunung Anyar Tengah Surabaya. (Foto: Muhammad Dzikrullah Akbar/ketik.com)
Paidi mulai berjualan pentol sejak pagi. Jika dagangannya laris, biasanya pada sore ia sudah menutup lapaknya, karena pada jam istirahat dan waktu siang banyak mahasiswa datang membeli.
Memasuki bulan Ramadan, ia mulai jualan pada pukul 15.00 WIB. Menurutnya, jika tetap berjualan dari pagi hingga siang hari saat Ramadan, dagangannya kurang diminati karena sebagian besar orang sedang menjalankan ibadah puasa. Oleh sebab itu, ia memilih berjualan menjelang waktu berbuka agar lebih sesuai dengan kebutuhan pembeli.
Selain pentol, Paidi juga menjual tahu dan siomay. Untuk isian pentol besarnya, tersedia varian daging, telur puyuh disertai gajih (lemak sapi).
Untuk variasi harga sangat terjangkau dan fleksibel. Harga satuan mulai dari Rp500 (pentol kecil), Rp2.000 (sedang), hingga Rp5.000 untuk pentol besar dengan isian. Pembeli bebas menentukan porsi sesuai budget, mulai dari Rp5.000, bahkan ada pelanggan yang memborong sampai Rp40.000.
Di area sekolah tempat Paidi menetap untuk berdagang, tidak ada pedagang lain yang terlihat selain dirinya. Ternyata, Paidi mendapatkan "hak eksklusif" atau izin khusus dari pihak sekolah, termasuk dari Kepala SD Al Islah Isnainiyah, atau akrab disapa Bu Is.
Hal ini bukan tanpa alasan. Paidi ternyata sudah menjadi bagian dari lingkungan Gunung Anyar sejak 1981, Loyalitas dan keberadaannya yang sudah puluhan tahun membuat para pemimpin sekolah, mulai dari era kepala sekolah terdahulu hingga sekarang memberikan kepercayaan penuh kepadanya untuk mengaiz rezeki di sana.
Meski berada di area sekolah, pelanggan setianya justru didominasi oleh mahasiswa, terutama dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Kampus 2, dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPN Veteran Jatim) serta masyarakat umum.
Sebagai pelanggan dominan di area ini, mahasiswa memberikan respons positif terhadap rasa Pentol Troloyo. "Menurutku sih pentolnya enak, gurih, sedikit lebih empuk jika digigit jadi bikin nagih. Apalagi kalau dicampur saos, lebih gurih lagi," ujar Izzul, warga asli Gunung Anyar Kidul.
Hal senada disampaikan pelanggan lainnya, Adji, yang mengaku ketagihan usai membeli pentol milik Paidi, terutama untuk varian tahunya.
"Pentolnya enak, ada beberapa macam. Tapi saya suka tahunya, enak, soalnya saya lebih suka tahunya daripada pentolnya," ucap mahasiswa UINSA itu.
Paidi menunjukkan pentol terbungkus plastik di gerobak jualannya di kawasan Gunung Anyar Surabaya. (Foto: Muhammad Dzikrullah Akbar/ketik.com)
Bagi yang sedang melintas di area Gunung Anyar, jangan lupa mampir ke gerobak pentol Paidi. Selain bisa menikmati selagi hangat, pelanggan juga bisa merasakan suasana legendaris di lingkungan sekitar, ditambah dengan semilirnya angin yang kerap muncul.
Tidak mengherankan, sebab di wilayah Surabaya Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo tersebut masih terdapat banyak hamparan sawah, ditambah dekat dengan Bandara Internasional Juanda. (*)
