KETIK, ACEH SINGKIL – Di balik senyum sumringah Maudatinur saat mengenakan toga Universitas Indonesia (UI), tersimpan kisah perjuangan yang menguras air mata dan tekad baja. Gadis asal Aceh Singkil ini membuktikan bahwa status berasal dari daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) bukanlah penghalang untuk menaklukkan kampus perjuangan.
Ketertarikan Maudatinur pada dunia keperawatan bukan tanpa alasan. Ia menyimpan luka mendalam yang ia ubah menjadi motivasi. Dalam waktu satu tahun, ia harus kehilangan kedua orang tuanya karena kondisi kesehatan yang menurun drastis.
“Saya pernah merasakan kepanikan ketika kondisi kesehatan orang tua berubah begitu cepat dan kehilangan mereka dalam rentang waktu satu tahun. Sejak saat itu saya sering bertanya-tanya, kenapa penyakit bisa datang tiba-tiba dan bagaimana cara mencegahnya,” ungkap Maudatinur, mengutip laman resmi UI, Selasa, 17 Februari 2026.
Pengalaman pahit itulah yang memicu niatnya untuk membantu orang lain agar mampu menjaga kesehatan orang-orang yang mereka sayangi melalui ilmu keperawatan.
“Dari sanalah saya berniat membantu orang lain agar bisa menjaga kesehatan orang-orang yang mereka sayangi,” lanjutnya.
Menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) UI melalui jalur afirmasi berbasis nilai rapor, Maudatinur sadar betul bahwa kesempatan ini adalah amanah besar. Meski harus berhadapan dengan ritme belajar yang cepat dan persaingan tinggi di UI, ia berhasil lulus tepat waktu dalam 3,5 tahun.
“Saya harus beradaptasi dengan ritme belajar yang cepat, tuntutan akademik yang tinggi, serta lingkungan yang penuh persaingan. Alih-alih menyerah, saya menerapkan strategi yang sederhana, tetapi konsisten, yakni dengan menyelesaikan setiap tugas satu hari lebih cepat dari tenggat,” ujarnya.
Maudatinur memahami betul arti keterbatasan akses kesehatan di daerah asalnya. Baginya, gelar sarjana ini bukan untuk kebanggaan pribadi di ibu kota, melainkan bekal untuk pulang kampung.
“Kini, saya bersiap kembali pulang untuk mengabdi, membawa ilmu bagi tanah kelahiran,” tegasnya.
Perjalanan Maudatinur dari ujung barat Indonesia ke Depok menjadi pengingat bagi anak muda lainnya yang sedang berjuang di tengah keterbatasan fasilitas.
“Jarak geografis dan keterbatasan fasilitas bukanlah penentu masa depan. Dengan tekad, disiplin, dan keyakinan, saya percaya kesuksesan akan datang,” pungkasnya. (*)
