KETIK, MALANG – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam BEM Malang Raya turun ke jalan pada Jumat, 10 April 2026 sore, sebagai bentuk solidaritas atas kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
Meski peristiwa tersebut terjadi di Jakarta, mereka menilai dampaknya melampaui batas wilayah dan menjadi peringatan serius bagi kondisi demokrasi di Indonesia.
Wakil Koordinator BEM Malang Raya, Aryo Bimo, menyebut kasus ini tidak bisa dilihat sebagai tindak kekerasan biasa. Menurutnya, ada makna yang lebih dalam terkait bagaimana kekuasaan merespons kritik publik.
“Kalau dilihat dari perspektif yang lebih luas, ini bukan sekadar peristiwa penyiraman air keras. Kami melihat ini sebagai pola komunikasi dari pemerintah terhadap kritik dan demokrasi,” ujarnya saat ditemui setelah melakukan aksi.
Ia menambahkan, latar belakang Andrie Yunus sebagai aktivis HAM yang vokal, khususnya dalam isu militerisasi di ranah sipil, menjadi konteks penting dalam membaca peristiwa tersebut. Karena itu, mahasiswa di Malang merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut bersuara.
“Malang ini kota pendidikan, kota pergerakan. Naif rasanya kalau kami diam ketika ada kawan aktivis yang dilukai karena bersuara kritis,” lanjutnya.
Dalam rangkaian aksi, massa juga mendatangi Kodim Malang dan melakukan teatrikal serta penaburan bunga sebagai simbol ancaman terhadap matinya demokrasi sipil.
Bimo juga menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi alarm bahwa kebebasan berpendapat tidak sepenuhnya aman.
“Pesannya jelas, kita bisa bicara kritis, tapi ada konsekuensi ketika menyentuh kepentingan tertentu,” katanya.
Meski mengaku ada tekanan sebelum aksi berlangsung, ia memastikan hal itu tidak menyurutkan langkah mereka.
“Ancaman pasti ada, tapi kami tidak takut. Ini bagian dari tanggung jawab moral kami sebagai mahasiswa,” tegasnya. (*)
