Suasana sore di sebuah warung kelontong pinggir desa terasa menyesakkan. Seorang pria paruh baya dengan sisa lumpur sawah yang mengering di betisnya menyodorkan beberapa lembar uang lecek untuk menebus dua liter beras medium. Ia Pak Sumadi, seorang petani yang baru saja menuntaskan panennya bulan lalu.
Ini adalah potret pertanian kita hari ini: sebuah anomali yang lazim. Mereka yang menanam, justru menjadi yang paling merana saat mengantre demi sesuap nasi di warung tetangga.
Indonesia, yang dulu masyhur dengan tradisi lumbung desa, kini tengah menyaksikan konservasi pangan dari titik paling purba: meja makan petani itu sendiri.
Dahulu, lumbung bukan sekadar bangunan kayu penyimpanan gabah. Ia adalah simbol harga diri dan sistem perlindungan sosial.
Filosofinya mendalam: makan secukupnya, simpan selebihnya. Namun, tekanan ekonomi yang memaksa petani menjual seluruh hasil panennya demi utang menutup pupuk, biaya sekolah, hingga kebutuhan harian yang harganya semakin mahal.
Seiring hilangnya lumbung, kita juga kehilangan “jiwa” dari pertanian itu sendiri. Tradisi Sedekah Bumi yang dulu menjadi ritual syukur kolosal, kini perlahan tenggelam.
Ritual ini bukan sekadar pesta rakyat, melainkan mengingatkan hubungan harmonis antara manusia, Sang Pencipta, dan alam. Ketika penghormatan terhadap penurunan tanah, pertanian pun menurun; hanya dipandang sebagai kalkulasi industri yang dingin, bukan lagi sebuah jalan hidup.
Kita sering lupa bahwa dalam setiap bulir padi yang menguning, ada hak orang lain. Budaya Zakat Panen yang dulu menjadi jaring pengaman sosial di pedesaan kini semakin sunyi.
Minimnya sisa hasil panen yang bisa disimpan membuat kesadaran berbagi ini terkikis. Padahal, zakat dan sedekah bumi adalah instrumen yang memastikan tidak ada tetangga yang kelaparan di tengah hamparan padi. Saat orientasi berubah menjadi murni komersial, nilai spiritualitas dan gotong royong tergerus oleh arus modernisasi yang egois.
Potret pilu ini diperparah oleh punahnya minat generasi muda. Anak-anak petani hari ini lebih memilih menjadi operator mesin di kota atau mengejar mimpi di balik meja kantor daripada berkubang lumpur.
Siapa yang bisa menyalahkan mereka? Ketika mereka melihat orang tua mereka tetap terjerat kemiskinan meski memiliki tanah, pertanian menjadi pilihan karir yang tidak menjanjikan masa depan.
Dengan rata-rata usia petani di atas 50 tahun, kita sedang berjalan menuju jurang ketergantungan impor yang absolut. Tanpa regenerasi masif dan proteksi harga yang adil, kedaulatan pangan hanyalah jargon di atas kertas.
Kita tidak boleh membiarkan petani terus menjadi "pemulung" di tanahnya sendiri. Mengembalikan budaya lumbung, menghidupkan kembali kearifan lokal, serta menjamin kesejahteraan petani melalui kebijakan yang prorakyat adalah harga mati.
Jangan sampai di masa depan, anak cucu kita hanya mengenal padi melalui buku sejarah, sementara para penjaga ketahanan terakhir pangan kita mati perlahan dalam kemiskinan di tengah sawah yang mereka tanami sendiri.
Ironi ini harus dihentikan sekarang, sebelum lumbung benar-benar menjadi artefak yang tidak bermakna. (*)
