KETIK, SURABAYA – Makan bersama keluarga menjadi salah satu tradisi yang tak terpisahkan saat perayaan akhir tahun di berbagai belahan dunia. Tidak hanya sekadar menikmati hidangan, tradisi ini sarat akan makna kebersamaan, rasa syukur, serta harapan akan tahun baru yang lebih baik. Setiap negara memiliki cara unik dalam merayakannya, dengan simbol dan filosofi yang berbeda-beda.
1. Spanyol dan Amerika Latin: Makan 12 Anggur di Tengah Malam
Salah satu tradisi makan akhir tahun yang paling ikonik berasal dari Spanyol dan sejumlah negara Amerika Latin seperti Meksiko, Peru, dan Argentina. Masyarakat di sana memiliki kebiasaan memakan 12 butir anggur tepat saat pergantian tahun. Setiap anggur melambangkan satu bulan dalam tahun yang akan datang. Ketika lonceng berdentang dua belas kali menjelang tengah malam, seluruh anggota keluarga memakan satu anggur di setiap dentingan sambil memanjatkan harapan. Tradisi ini dipercaya membawa keberuntungan, kelimpahan, dan doa baik sepanjang tahun. Usai ritual 12 anggur, keluarga biasanya melanjutkan perayaan dengan makan malam besar yang menyajikan hidangan khas seperti paella, tapas, atau daging panggang. Momen tersebut menjadi ajang kebersamaan yang penuh tawa dan harapan.
2. Filipina: 12 Buah Bulat dan Hidangan Manis
Di Filipina, tradisi makan akhir tahun juga dilakukan dengan menyediakan 12 jenis buah berbentuk bulat. Bentuk bulat dipercaya melambangkan uang dan kemakmuran, setiap buahnya melambangkan setiap bulan dalam satu tahun ke depan.
Selain buah, hidangan manis seperti kue beras lengket bibingka atau puto bumbong juga disediakan. Makanan manis dimaknai sebagai simbol hubungan keluarga yang erat serta harapan akan tahun baru yang penuh kehangatan dan rezeki manis.
Perayaan malam tahun baru di Filipina biasanya diwarnai dengan doa bersama dan makan malam besar sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan setahun terakhir.
3. Brasil: Hidangan Laut dan Anggur untuk Kelimpahan
Di Brasil, masyarakat menyambut tahun baru dengan menyantap hidangan laut seperti ikan dan udang yang melambangkan kemakmuran. Sebaliknya, daging ayam sering dihindari karena dianggap dapat membuat keberuntungan “terbang”. Selain itu, tradisi minum anggur merah juga populer.
Tak jarang, perayaan dilakukan di pantai dengan menyalakan kembang api serta menabur bunga ke laut sebagai bentuk penghormatan kepada dewi laut, Yemanjá. Tradisi ini memperlihatkan perpaduan antara spiritualitas, alam, dan kebersamaan keluarga.
4. Indonesia: Perpaduan Tradisi Lokal dan Modern
Di Indonesia, tradisi makan bersama akhir tahun berkembang dengan memadukan budaya lokal dan pengaruh modern. Banyak keluarga memilih berkumpul di rumah atau tempat wisata untuk menutup tahun dengan kebersamaan. Menu yang disajikan pun beragam, menyesuaikan daerah masing-masing. Mulai dari sate dan lontong di Jawa, ikan bakar di Sulawesi, hingga jagung bakar di Bali dan Nusa Tenggara. Menariknya, di sejumlah daerah, makan akhir tahun diawali dengan doa bersama atau tasyakuran kecil sebagai bentuk ungkapan syukur. Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang kuat dalam budaya Indonesia.
Di balik ragam hidangan dan cara perayaan, tradisi makan bersama di akhir tahun memiliki makna universal. Makanan menjadi sarana untuk mempererat hubungan, menumbuhkan rasa syukur, serta menyimpan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Tradisi ini mengajarkan bahwa kebersamaan tak selalu tentang kemewahan, melainkan tentang momen berbagi dan kehangatan. Makan bersama akan selalu menjadi cara sederhana namun bermakna untuk menutup tahun dengan penuh rasa syukur dan kebersamaan.(*)
