KETIK, BATU – Dampak konflik di kawasan Timur Tengah membuat lima jemaah umrah asal Kota Batu belum dapat kembali ke Tanah Air. Kondisi tersebut diungkapkan Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Batu, Basuki Rachmat.
“Betul, sudah tertahan lima hari. Ada lima jemaah asal Kota Batu yang belum bisa kembali. Salah satunya merupakan pemilik biro perjalanan. Namun, berdasarkan informasi yang kami terima, seluruhnya dalam kondisi aman,” ujarnya.
Sementara itu, Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj) juga telah menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah pemangku kepentingan untuk menyikapi dinamika keamanan di Timur Tengah yang berdampak pada perjalanan umrah.
Pertemuan tersebut melibatkan perwakilan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Kementerian Perhubungan, maskapai penerbangan, serta asosiasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU).
Rapat tersebut bertujuan menyusun langkah bersama dalam memantau perkembangan situasi sekaligus menyiapkan strategi mitigasi risiko guna menjamin keselamatan dan perlindungan jemaah.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, menegaskan bahwa aspek keselamatan menjadi prioritas utama pemerintah dalam setiap pengambilan kebijakan.
“Kerangka berpikir kami jelas, keselamatan jemaah adalah yang utama. Penundaan bukan berarti pembatalan, melainkan bagian dari mitigasi risiko. Ini merupakan bentuk kehadiran negara untuk memastikan pelindungan, kepastian, dan ketenangan bagi seluruh jemaah,” ujarnya saat memimpin rapat di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.
Sebelumnya, Kemenhaj telah mengimbau calon jemaah yang belum berangkat agar menunda perjalanan umrah hingga kondisi keamanan dinilai lebih kondusif. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipatif di tengah situasi yang masih berkembang di kawasan Timur Tengah. (*)
