KETIK, BATU – Sebanyak tujuh lembaga pendidikan di Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, dijadwalkan mulai menerima distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ngabab pekan ini, setelah pelaksanaan uji coba perdana pada Rabu, 4 Maret 2026.
SPPG Ngabab memulai tahap running dengan distribusi terbatas sebagai bagian dari evaluasi kesiapan dapur dan sistem penyaluran.
Uji coba dilakukan pada pagi hari dengan menyasar para guru sebelum nantinya diberikan kepada siswa.
Mitra SPPG Ngabab, Sumiati, mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh proses berjalan optimal.
“Tadi pagi kami melaksanakan uji coba kepada guru-guru terlebih dahulu. Untuk siswa belum kami distribusikan karena ingin memastikan kesiapan dapur dan mekanisme penyaluran. Siangnya dilanjutkan dengan peresmian,” ujarnya.
Dalam tahap uji coba itu, sebanyak 120 paket makanan kering dibagikan. Menu yang disiapkan meliputi buah pir, kurma, abon, dan roti.
Kepala SPPG Ngabab Pujon, Sumitro Micho, menyampaikan distribusi resmi kepada siswa akan dimulai Kamis dengan menyasar tujuh lembaga pendidikan di Desa Ngabab.
“Insya Allah hari Kamis mulai kami salurkan ke tujuh lembaga pendidikan di Desa Ngabab. Jumlah penerima manfaat pada minggu pertama kurang lebih 986 siswa,” katanya.
Pada pekan kedua, cakupan layanan direncanakan diperluas ke sejumlah sekolah di wilayah Tawangsari. Secara keseluruhan, penerima manfaat diproyeksikan mencapai 2.264 siswa dari sekolah negeri maupun swasta.
Meski demikian, untuk sementara kelompok B3 yang meliputi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita belum dapat dijangkau. Hal itu mempertimbangkan kesiapan dapur serta relawan yang masih dalam tahap awal operasional.
“Kami masih dapur baru dan relawan juga baru. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sementara kelompok B3 belum bisa kami layani. Insya Allah setelah Ramadan,” jelasnya.
Dalam hal pengadaan bahan baku, SPPG Ngabab memprioritaskan produk lokal. Desa Ngabab yang dikenal sebagai sentra sayur menjadi sumber utama pasokan bahan makanan melalui kerja sama dengan UMKM dan petani setempat.
“Kami mengambil bahan dari UMKM dan petani lokal Desa Ngabab. Untuk sayur, insya Allah tidak keluar dari desa. Kami memanfaatkan hasil tani masyarakat setempat,” ujarnya.
Terkait penggunaan susu, Sumitro menilai pemanfaatan susu pasteurisasi dari peternak sapi perah di Pujon dapat menjadi peluang mendukung ekonomi lokal. Namun, saat ini pihaknya masih mengikuti ketentuan yang mewajibkan penggunaan susu UHT.
“Secara konsep itu bagus untuk mendukung UMKM dan peternak lokal. Namun, aturan yang berlaku saat ini mengharuskan penggunaan susu UHT. Susu murni atau pasteurisasi lebih rentan basi, sedangkan UHT lebih aman dari sisi daya simpan dan distribusi,” terangnya.
Dari sisi sumber daya manusia, hampir seluruh relawan dapur SPPG Ngabab berasal dari masyarakat setempat.
“Kalau di petunjuk teknis minimal 30 persen tenaga kerja dari warga lokal. Di dapur kami sudah 99 persen berasal dari Desa Ngabab,” pungkasnya. (*)
