KETIK, YOGYAKARTA – Pemerintah Kabupaten Sleman menggelar Gathering memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026 bersama Paguyuban Wartawan Pemkab Sleman (PWPS) di Sajian Kembang Turi Resto, Selasa, 10 Februari 2026.
Acara bertajuk "Terkoneksi Berkolaborasi" ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus ruang refleksi atas peran sejarah pers dalam perjuangan bangsa.
Bupati Sleman Harda Kiswaya menekankan pentingnya sinergi yang tulus antara birokrasi dan insan pers untuk mengakselerasi pembangunan.
Harda mengakui bahwa menyatukan langkah antara pemerintah dan media memiliki tantangan tersendiri karena adanya berbagai regulasi yang berlapis. Oleh karena itu, ia mendorong adanya pembagian peran yang jelas agar tidak terjadi benturan kepentingan di lapangan.
Di hadapan para jurnalis, Harda mengajak untuk membangun ikatan personal yang melampaui batas profesionalisme pekerjaan. Ia berharap hubungan antar pribadi di pemerintahan dan media bisa menciptakan prinsip sedulur saklawase atau persaudaraan selamanya.
Wabup Sleman, Danang Maharsa, (tengah) menegaskan peran krusial pers sebagai alat pemersatu bangsa. Selain itu ia juga menekankan pentingnya menjaga objektivitas dan transparansi informasi untuk menjaga keutuhan NKRI.( Foto: Fajar R/Ketik.com)
"Pribadi-pribadinya betul-betul bisa menciptakan sing jenenge sedulur saklawase. Ayo betul-betul kita wujudkan, insya Allah pasti Sleman juga akan terbantu, njenengan (anda) juga akan terbantu. Tugas-tugas jenengan terbantu, tugas pemerintah juga jenengan bantu," ujar Harda.
Bupati Harda meyakini bahwa jika hal tersebut terwujud, maka pembangunan di Sleman akan sangat terbantu karena tugas-tugas jurnalis akan dimudahkan, begitu pula dengan program-program pemerintah yang terbantu oleh publikasi media. "Semoga Tuhan Yang Maha Besar memberikan kemudahan untuk kita bisa berkolaborasi dan terus terkoneksi," tambahnya.
Senada dengan Bupati, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa memaparkan perspektif historis mengenai peran pers sebagai alat perjuangan. Danang mengingatkan bahwa nasionalisme Indonesia tidak lepas dari kontribusi jurnalisme, termasuk dalam lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Ia mengisahkan bagaimana sindiran di majalah Timbul pada 1926 memicu WR Supratman, seorang wartawan sekaligus musisi, untuk berinisiatif menciptakan lagu kebangsaan.
"Pers harus menjadi alat pemersatu dan alat perjuangan. Sejarah mencatat, lewat tulisan dan karya jurnalistiklah semangat nasionalisme kita dibakar hingga merdeka," kata Danang.
Usai memotong tumpeng saat Gathering Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Selanjutnya Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan kepada perwakilan wartawan tertua dan termuda sebagai simbol regenerasi serta kolaborasi yang erat antara Pemkab Sleman dan insan pers dalam membangun daerah. (Foto: Fajar R/Ketik.com)
Danang juga mengulas sejarah Kongres Pemuda II 1928, di mana Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan hanya dengan biola tanpa lirik demi menghindari represi pemerintah kolonial Belanda.
Menurutnya, esensi pers sebagai pemersatu bangsa harus tetap dijaga dengan menyajikan berita secara objektif dan transparan. Di tengah perbedaan pendapat saat ini, ia menegaskan bahwa pers harus tetap menjadi alat untuk mempersatukan bangsa dan menjaga keutuhan NKRI.
Acara gathering ini ditutup dengan rangkaian aktivitas outbound dan team building yang diikuti oleh puluhan wartawan dan jajaran Dinas Komunikasi dan Informatika Sleman. Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta soliditas yang kuat untuk mendukung penyebaran informasi yang konstruktif dan berimbang. (*)
