KETIK, KEDIRI – Gethuk pisang masih bertahan sebagai salah satu ikon kuliner khas Kediri hingga hari ini. Di balik cita rasanya yang legit dan aroma pisang yang khas, ada sosok Ibu Safa (47), warga Desa Badal, yang setia menekuni usaha gethuk pisang sejak 2002. Perempuan kelahiran Kediri ini dikenal sebagai pelaku usaha yang konsisten menjaga kualitas rasa di tengah gempuran perubahan selera dan tren kuliner.
Proses pembuatan gethuk pisang terbilang tidak singkat. Pisang raja nangka harus dikukus selama kurang lebih delapan jam hingga benar-benar matang. Setelah itu, pisang digiling saat masih panas lalu langsung dicetak di atas daun pisang. Cara tradisional ini diyakini mampu mempertahankan tekstur lembut sekaligus cita rasa autentik gethuk pisang Kediri. Dengan proses tersebut, gethuk pisang dapat bertahan hingga tiga hari tanpa mengalami perubahan rasa.
Pada awal merintis usaha, gethuk pisang menjadi sumber penghasilan utama bagi Bu Safa. Setiap malam, sekitar pukul 22.00 WIB, sepulang berjualan cenil, klepon, dan aneka jajanan pasar lainnya, ia kembali bekerja dengan mengukus pisang untuk produksi gethuk keesokan harinya. Kerja keras itu membuahkan hasil. Pada masa kejayaannya, Bu Safa mampu mempekerjakan hingga 10 orang dengan kapasitas produksi mencapai ribuan biji per hari.
Namun, kondisi tersebut mulai berubah sejak 2019. Permintaan gethuk pisang menurun cukup drastis, diikuti dengan berkurangnya jumlah produksi. Saat ini, Bu Safa hanya mampu memproduksi sekitar 600 hingga 700 biji per hari. Ketersediaan bahan baku pun tak lagi semudah dulu. Jika sebelumnya ia memiliki pemasok tetap yang sanggup menyuplai pisang hingga satu mobil pikap, kini pisang dan daun pisang harus ia peroleh sendiri dari pasar.
Meski demikian, gethuk pisang produksi Bu Safa tetap memiliki pasar tersendiri. Distribusinya menjangkau berbagai wilayah, mulai dari Ngadiluwih, Nggringging, hingga Nganjuk. Tak sedikit pula pihak yang datang untuk sekadar melihat proses produksi atau mewawancarainya terkait usaha kuliner tradisional tersebut.
Menurut ibu tiga anak ini, tantangan terbesar saat ini terletak pada pemasaran serta semakin banyaknya pesaing. “Memang keluarga kami banyak yang bisa membuat gethuk. Dulu pemasarannya masih enak karena gethuk pisang ini khas Kediri, jadi banyak yang tertarik. Sekarang ya kendalanya di pemasaran,” ujarnya sambil tertawa kecil saat ditemui Ketik.com beberapa waktu lalu.
Untuk harga, gethuk pisang Bu Safa dijual bervariasi, mulai dari Rp1.000 hingga Rp8.000 per biji, tergantung ukuran. Ia berharap usaha yang telah dirintis puluhan tahun itu kembali ramai peminat. Di tengah maraknya tren kuliner yang mengedepankan tampilan, Bu Safa menilai rasa seharusnya tetap menjadi yang utama. “Wong sekarang ini lomba gedhe-gedhe-an, kalau rasa belum tentu,” tuturnya dengan logat khas Kediri.
