KETIK, SURABAYA – Partai Gerindra merayakan hari ulang tahunnya yang ke 18 pada Jumat, 6 Februari 2026 lalu. Namun terdapat pemandangan yang kontras kali ini.
Sejak beberapa hari menjelang puncak perayaan, bendera Partai Gerindra menghiasi berbagai sudut ibu kota. Sebenarnya hal itu lumrah dilakukan oleh setiap partai.
Namun yang menjadi tidak lumrah, karena sekitar dua hari sebelumnya, spanduk UMKM seperti warung makan dan toko kelontong, dibersihkan oleh Satpol PP Kota Bogor. Padahal, spanduk itu berada di dalam rumah warga atau aset pribadi masyarakat, bukan di fasilitas umum.
Pembersihan itu hanya berselang beberapa jam setelah Presiden Prabowo dalam sebuah pidatonya mengeluhkan banyaknya spanduk dan banner yang ada di sepanjang jalan Kota Bogor, terutama yang mengarah ke rumah pribadinya yang ada di Hambalang.
“Ayam goreng pesan 1 gratis 1. Kenapa harus besar-besar sih spanduknya? Turis datang nggak mau lihat spanduk,” ujar Prabowo dalam pidato taklimat di depan seluruh kepala daerah se Indonesia pada 2 Februari 2026 lalu.
Banyaknya spanduk dan banner UMKM itu, dikeluhkan Presiden Prabowo telah merusak pemandangan. Tak hanya di kota Bogor, Presiden Prabowo bahkan meminta seluruh kepala daerah untuk membersihkan banner-banner yang dinilai menjadi polusi mata.
Hal itu langsung direspon cepat oleh Satpol PP Kota Bogor dengan membersihkan spanduk dan banner UMKM, sekalipun tidak di pasang di ruang publik.
Sementara pada saat yang hampir bersamaan, banyak bendera partai terutama Gerindra yang dipasang di berbagai sudut kota, terutama di ruang publik. Tidak ada petugas Satpol PP yang berani mencopotnya.
Kontrasnya dua kondisi tersebut memicu kritik masyarakat di media sosial. Mereka menilai ada tebang pilih. Bahkan, spanduk dan banner UMKM dinilai tidak mengganggu, terlebih jika dipasang di rumah pribadi yang seharusnya tidak berhak dicopot oleh Satpol PP. Sedangkan bendera Partai Gerindra dibiarkan bebas tanpa berani disentuh aparat.
Kritik tersebut rupanya didengar oleh petinggi Partai Gerindra yang kemudian menyampaikan permohonan maaf.
Partai besutan Presiden Prabowo itu meminta maaf kepada masyarakat menyusul polemik pemasangan atribut partai yang dinilai mengganggu kenyamanan ruang publik, khususnya di jalan-jalan. Permintaan maaf tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Sugiono.
Pernyataan itu disampaikan Sugiono usai menghadiri acara syukuran Hari Ulang Tahun ke-18 Partai Gerindra di kediaman Ketua Umum Prabowo Subianto, Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Jumat malam, 6 Februari 2026. Ia mengakui bahwa maraknya pemasangan atribut partai telah menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian masyarakat.
Sugiono menegaskan, pihaknya telah mengambil langkah tegas dengan memerintahkan seluruh kader dan struktur partai untuk segera mencopot atribut-atribut tersebut dari ruang publik. “Besok, saya meminta kepada seluruh kader dan partai untuk membersihkan atribut-atribut partai yang terpasang,” ujarnya seperti dikutip dari Suara.com, jejaring media Ketik.com, Jumat, 6 Februari 2026.
Ia menjelaskan, pemasangan atribut tersebut dilakukan dalam rangka memeriahkan peringatan ulang tahun ke-18 Partai Gerindra. Antusiasme kader yang tinggi, kata Sugiono, membuat atribut partai terpasang di berbagai titik. Namun, ia menyadari bahwa hal tersebut menimbulkan dampak yang tidak diharapkan.
“Kemudian kami juga meminta maaf jika ada pihak-pihak yang merasa terganggu. Ini hanya menunjukkan semangat kami yang begitu besar setelah berjuang sekian lama,” kata Sugiono.
Lebih lanjut, Sugiono menyampaikan bahwa perintah pencopotan atribut tidak hanya bersifat imbauan, melainkan instruksi organisasi yang wajib dilaksanakan hingga tingkat bawah. Arahan tersebut, menurutnya, telah disampaikan kepada seluruh jajaran partai pada malam yang sama.
“Tapi malam ini kami perintahkan kepada seluruh jajaran untuk membersihkan. Terima kasih,” ucap politikus yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri tersebut.
Sebagai organisasi politik, Sugiono menegaskan bahwa Partai Gerindra akan memastikan instruksi tersebut dijalankan di lapangan. Ia juga menyatakan akan terus memantau pelaksanaan pencopotan atribut agar tidak terjadi pelanggaran serupa di kemudian hari.
“Gerindra ini organisasi. Saya sudah menyampaikan dan ini akan dieksekusi di tingkat lapangan. Tapi saya akan terus memantau,” pungkas Sugiono.
