KETIK, JAKARTA – Hari Raya Idulfitri tidak hanya menjadi momen kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Di Indonesia, Lebaran juga identik dengan berbagai tradisi khas yang berkembang dari perpaduan ajaran Islam dengan budaya lokal.
Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam merayakan Idulfitri. Tradisi-tradisi tersebut tidak hanya memperkaya khazanah budaya Nusantara, tetapi juga mempererat hubungan sosial dalam masyarakat.
Beberapa tradisi bahkan telah berlangsung selama ratusan tahun, seperti takbir keliling, sungkeman, hingga perayaan adat seperti Grebeg Syawal di Yogyakarta, Perang Topat di Lombok, dan Binarundak di Sulawesi Utara.
Berikut beberapa tradisi unik Lebaran di Indonesia yang masih dijaga hingga kini.
Takbir Keliling: Tradisi Syiar Islam di Malam Idulfitri
Takbir keliling merupakan salah satu tradisi yang paling dikenal dalam perayaan Lebaran di Indonesia. Tradisi ini dilakukan pada malam menjelang Idulfitri dengan cara mengumandangkan takbir secara bersama-sama sambil berkeliling kampung atau kota.
Masyarakat biasanya berjalan kaki atau menggunakan kendaraan sambil membawa bedug, obor, lampion, atau kendaraan hias. Suasana malam takbiran pun menjadi meriah dan penuh kegembiraan.
Secara historis, tradisi takbiran memiliki dasar dalam ajaran Islam. Umat Muslim dianjurkan untuk mengumandangkan takbir sejak malam Idulfitri hingga pelaksanaan salat Id.
Namun, praktik takbir keliling dalam bentuk arak-arakan seperti di Indonesia berkembang sebagai tradisi lokal. Beberapa sejarawan menilai tradisi ini mulai berkembang kuat di Jawa sejak masa kerajaan Islam.
Sejarawan dari Universitas Gadjah Mada, M. C. Ricklefs, dalam kajiannya tentang sejarah Islam di Jawa menjelaskan bahwa proses Islamisasi di Nusantara sering memadukan ajaran agama dengan tradisi masyarakat setempat. Hal ini membuat praktik keagamaan menjadi lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Dikutip dari buku “Ensiklopedi Islam Nusantara: Edisi Budaya” terbitan Kementerian Agama RI tahun 2018, disebutkan bahwa pada zaman penjajahan Belanda, takbir keliling di Dompu digunakan sebagai sarana mengumpulkan masa untuk melawan Belanda. Takbir disertai tahlil dipakai untuk mengorbankan semangat rakyat. Mereka sekaligus bertekad untuk syahid di jalan Allah SWT.
Dalam konteks tersebut, takbir keliling dapat dipahami sebagai bentuk syiar Islam yang sekaligus menjadi ekspresi budaya masyarakat lokal.
Sungkeman: Tradisi Memohon Maaf kepada Orang Tua
Tradisi lain yang sangat identik dengan Lebaran di Indonesia adalah sungkeman. Tradisi ini lazim dilakukan oleh masyarakat Jawa sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua atau anggota keluarga yang lebih tua.
Dalam tradisi ini, anak-anak atau anggota keluarga yang lebih muda bersimpuh di hadapan orang tua sambil mencium tangan dan memohon maaf. Sungkeman biasanya dilakukan setelah salat Idulfitri atau saat berkumpul bersama keluarga.
Menurut antropolog Indonesia, Koentjaraningrat, tradisi sungkeman merupakan bagian dari budaya Jawa yang menekankan nilai hormat kepada orang tua dan hierarki sosial dalam keluarga.
Tradisi ini sebenarnya sudah ada jauh sebelum Islam masuk ke Nusantara. Namun, ketika Islam berkembang di Jawa, praktik sungkeman kemudian menyatu dengan tradisi saling memaafkan saat Lebaran.
Karena itu, sungkeman tidak hanya memiliki makna budaya, tetapi juga nilai religius yang kuat sebagai simbol kerendahan hati dan penghormatan kepada orang tua.
Grebeg Syawal: Tradisi Keraton di Yogyakarta
Salah satu tradisi Lebaran yang terkenal di Jawa adalah Grebeg Syawal yang digelar di Keraton Yogyakarta.
Tradisi ini diselenggarakan setiap tanggal 1 Syawal sebagai bagian dari perayaan Idulfitri di lingkungan keraton.
Dalam prosesi tersebut, pihak keraton mengarak gunungan, yaitu tumpukan hasil bumi yang disusun menyerupai gunung. Gunungan tersebut kemudian dibawa dari keraton menuju Masjid Besar Kauman.
Setelah prosesi selesai, masyarakat biasanya berebut isi gunungan tersebut. Mereka percaya hasil bumi dari gunungan membawa berkah dan kemakmuran.
Tradisi Grebeg Syawal sendiri sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Hamengkubuwono I pada abad ke-18.
Selain sebagai perayaan keagamaan, tradisi ini juga menjadi simbol hubungan antara keraton dan rakyat.
Perang Topat di Lombok
Di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, masyarakat memiliki tradisi unik yang dikenal sebagai Perang Topat.
Tradisi ini biasanya digelar di kawasan Pura Lingsar beberapa hari setelah Lebaran.
Dalam acara tersebut, masyarakat Muslim dan Hindu berkumpul bersama untuk mengikuti ritual adat. Puncak acara ditandai dengan saling melempar ketupat atau "topat".
Meski disebut “perang”, tradisi ini tidak bermakna konflik. Justru sebaliknya, Perang Topat melambangkan kerukunan dan persaudaraan antara dua komunitas agama yang hidup berdampingan di Lombok.
Setelah ritual selesai, ketupat yang berserakan biasanya dikumpulkan oleh masyarakat dan digunakan sebagai pupuk di ladang. Hal ini melambangkan harapan akan kesuburan dan hasil panen yang baik.
Binarundak: Tradisi Lebaran di Sulawesi Utara
Di wilayah Sulawesi Utara, khususnya di daerah Bolaang Mongondow, masyarakat Muslim memiliki tradisi Lebaran yang disebut Binarundak.
Tradisi ini berkaitan dengan pembuatan makanan khas yang disebut nasi jaha atau nasi yang dimasak dalam bambu bersama santan dan rempah-rempah.
Dalam tradisi Binarundak, masyarakat biasanya memasak nasi jaha secara bersama-sama menjelang Idulfitri. Proses memasak ini dilakukan secara gotong royong oleh keluarga maupun warga desa.
Setelah matang, makanan tersebut kemudian disajikan kepada keluarga, tetangga, dan tamu yang datang bersilaturahmi.
Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari perayaan Lebaran, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Berbagai tradisi seperti takbir keliling, sungkeman, Grebeg Syawal, Perang Topat, hingga Binarundak menunjukkan betapa kayanya budaya Lebaran di Indonesia.
Tradisi-tradisi tersebut mencerminkan proses panjang interaksi antara ajaran Islam dengan budaya lokal yang berkembang di berbagai daerah.
Melalui tradisi tersebut, Lebaran tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi momen penting untuk memperkuat persaudaraan, menjaga warisan budaya, dan mempererat hubungan antar masyarakat.
Karena itulah, tradisi Lebaran di Indonesia selalu menghadirkan suasana yang khas dan penuh makna setiap tahunnya.(*)
