KETIK, JEMBER – Tradisi membawa oleh-oleh saat arus balik Lebaran masih terus bertahan di tengah masyarakat. Di Jember, berbagai produk kuliner khas daerah menjadi incaran para pemudik yang hendak kembali ke kota perantauan.
Sejumlah toko oleh-oleh di wilayah perkotaan dipadati pembeli dalam beberapa hari terakhir. Salah satunya adalah Toko Oleh-Oleh Citra Rasa Jember di Jalan Trunojoyo, Kecamatan Kaliwates, yang menjadi tujuan favorit para pemudik.
Pemilik toko, Aliya Nur Afni, mengatakan bahwa produk berbahan dasar tape masih menjadi primadona di kalangan konsumen. Produk tersebut dinilai memiliki cita rasa khas sekaligus merepresentasikan identitas kuliner Jember.
“Yang paling favorit di sini tetap suwar-suwir sama prol tape. Selain itu ada juga tape, tape ketan, edamame, dan kue kacang,” ujarnya, Rabu, 25 Maret 2026.
Mayoritas pembeli merupakan pemudik dari luar daerah yang membeli dalam jumlah cukup banyak. Mereka memanfaatkan momen arus balik untuk membawa oleh-oleh sebagai buah tangan bagi keluarga dan rekan kerja.
Keberagaman produk menjadi salah satu faktor utama yang menarik minat konsumen. Selain itu, harga yang bervariasi memungkinkan pembeli menyesuaikan pilihan dengan anggaran yang dimiliki.
“Saya mau bawa ke saudara di Kranjingan dan Ambulu. Di sini pilihannya lengkap, jadi bisa menyesuaikan dengan harga,” kata Rahmat, pemudik asal Bondowoso.
Ia menilai, oleh-oleh berupa makanan lebih diminati dibandingkan cinderamata non-kuliner. Selain lebih praktis, makanan khas daerah dianggap memiliki nilai kedekatan emosional yang lebih kuat.
"Toko oleh-oleh, apalagi bentuk makanan atau jajajan. Ya yang paling diminati menurut saya, daripada hanya cinderamata ya," tuturnya.
Selain variasi produk, tampilan kemasan juga menjadi pertimbangan penting bagi konsumen. Kemasan yang menarik membuat produk lebih layak dijadikan buah tangan, sekaligus meningkatkan daya tarik saat diberikan kepada orang lain.
Di balik tingginya minat terhadap oleh-oleh khas Jember, terdapat dinamika ekonomi yang turut memengaruhi perilaku konsumen. Meski jumlah pembeli meningkat selama arus balik, pelaku usaha mengaku omzet belum sepenuhnya pulih seperti tahun sebelumnya.
Pada puncak arus balik, omzet penjualan di salah satu toko oleh-oleh hanya mencapai sekitar Rp6 juta per hari. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan periode Lebaran tahun lalu.
Kondisi ini menunjukkan adanya penurunan daya beli masyarakat. Konsumen cenderung lebih selektif dalam berbelanja, baik dari segi jumlah maupun jenis produk yang dibeli.
Meski demikian, tingginya mobilitas pemudik tetap menjadi faktor penting yang menjaga perputaran ekonomi lokal. Tradisi membawa oleh-oleh secara tidak langsung membantu distribusi produk khas daerah ke berbagai wilayah di Indonesia.
Fenomena ini menegaskan bahwa oleh-oleh bukan sekadar barang bawaan, melainkan bagian dari budaya silaturahmi yang terus hidup di tengah masyarakat. Selama arus balik berlangsung, suwar-suwir, prol tape, dan aneka kuliner khas Jember lainnya tetap menjadi pilihan utama para pemudik.
