KETIK, SURABAYA – Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur, Mohammad Ivan Akiedozawa atau yang akrab disapa Edo, berkomitmen mengawal isu-isu kerakyatan, khususnya persoalan agraria dan lingkungan hidup, dalam periode kepemimpinannya 2026-2028.
Hal itu disampaikan Edo saat pidato perdananya usai resmi dilantik sebagai Ketua PKC PMII Jatim di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Sabtu, 14 Februari 2026.
"Sebagai sebuah komitmen, kita tidak boleh abai terhadap isu-isu kerakyatan. Kita ketahui bersama bahwa di sekitar kita banyak saudara-saudara sebangsa dan setanah air sedang mengalami perampasan ruang hidup. Ketimpangan penguasaan tanah, konflik sumber daya, serta krisis ekologis adalah persoalan nyata yang menyentuh kehidupan rakyat," ucap Edo dihadapan ratusan kader.
Menurutnya, krisis agraria dan kerusakan lingkungan bukan sekadar isu teknis, melainkan persoalan keadilan sosial.
Ia menyebut ketimpangan penguasaan tanah, konflik sumber daya alam, serta eksploitasi lingkungan yang tidak terkendali telah melahirkan penderitaan bagi masyarakat kecil.
"Di sinilah PMII harus mengambil posisi yang jelas. Kita harus hadir sebagai kekuatan moral, kekuatan intelektual, sekaligus kekuatan advokasi. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika kebijakan publik. PMII harus menjadi bagian dari solusi," katanya.
Edo menjelaskan, pengawalan isu agraria berarti memperjuangkan distribusi sumber daya yang adil, membela masyarakat yang termarginalkan, serta mendorong kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat.
Sementara itu, pengawalan isu lingkungan merupakan tanggung jawab moral terhadap masa depan generasi mendatang.
"Dalam perspektif keislaman, menjaga bumi adalah amanah. Dalam perspektif kebangsaan, menjaga lingkungan adalah syarat keberlanjutan pembangunan. Maka, perjuangan ini bukan sekadar agenda organisasi, tetapi panggilan moral yang harus kita jawab bersama," tuturnya.
Selain isu agraria dan lingkungan, Edo juga menyoroti pentingnya transformasi gerakan di tengah perubahan teknologi yang kian cepat.
Ia menilai, aktivisme hari ini tidak cukup hanya dilakukan di ruang-ruang fisik, tetapi juga harus hadir di ruang digital dan ruang wacana.
"Gerakan aktivisme PMII harus bertransformasi. Kita harus memperkuat literasi digital, memperluas ruang advokasi melalui media baru, serta memanfaatkan teknologi untuk pengorganisasian yang lebih efektif. Aktivisme tidak boleh tertinggal oleh perkembangan zaman," ucapnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa reformasi gerakan tidak berarti meninggalkan jati diri organisasi. Tradisi intelektual, diskusi, dan keberpihakan sosial tetap harus menjadi kompas utama.
"Kita ingin membangun ekosistem gerakan yang kolaboratif, adaptif, dan inovatif. Gerakan yang mampu menjawab persoalan nyata masyarakat, sekaligus berkontribusi dalam percaturan pemikiran global," katanya.
Di akhir pidatonya, Edo mengutip pernyataan Benazir Bhutto tentang kapal yang tidak diciptakan untuk ditambatkan di dermaga, melainkan untuk mengarungi samudra. Ia menganalogikan PMII sebagai kapal yang harus siap menghadapi gelombang persoalan bangsa.
"PMII tidak lahir untuk gagah-gagahan. PMII lahir untuk merawat Indonesia. PMII lahir untuk menjaga Islam Ahlussunnah wal Jama’ah tetap menjadi rahmat bagi semesta. Dari Jawa Timur, kita kirim pesan kepada Indonesia bahwa PMII siap menjadi pelopor pembaruan, generasi solusi, dan arsitek masa depan bangsa," pungkasnya.(*)
