Diklat EWS-Antibiotik, Tenaga Medis RSUD dr. Darsono Pacitan Perdalam Deteksi Dini Pasien Berisiko

19 Februari 2026 13:48 19 Feb 2026 13:48

Thumbnail Diklat EWS-Antibiotik, Tenaga Medis RSUD dr. Darsono Pacitan Perdalam Deteksi Dini Pasien Berisiko

Suasana Diklat Deteksi Dini Pasien Berisiko melalui Early Warning System dan Bijak Penggunaan Antibiotik di Ruang Pertemuan Lantai 3 RSUD dr. Darsono Pacitan, Rabu, 18 Februari 2026. (Foto: Dok. RSUD dr. Darsono for Ketik.com)

KETIK, PACITAN – Suasana Ruang Pertemuan Lantai 3 RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan, Kamis, 19 Februari 2026, tampak lebih sibuk dari biasanya. 

Sejak pagi, puluhan dokter umum dan perawat kembali berdatangan untuk melanjutkan hari kedua Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Deteksi Dini Pasien Berisiko melalui Early Warning System (EWS) dan bijak dalam penggunaan antibiotik yang dibuka Rabu, 18 Februari 2026 kemarin.

Sebanyak 73 peserta tercatat mengikuti kegiatan ini. Di dalam ruangan, layar proyektor menyala menampilkan grafik, tabel skor EWS, hingga data resistensi kuman. 

Panitia hilir mudik memastikan jadwal, absensi, materi, dan konsumsi berjalan sesuai rencana.

Ketua Panitia, dr. Azhar Nur Fathoni, Sp.THT-KL., menyebut kegiatan ini sebagai penguatan kapasitas internal tenaga medis. 

Seluruh dokter dan perawat diharapkan memiliki persepsi dan standar yang sama dalam mendeteksi tanda-tanda awal kondisi pasien yang memburuk serta dalam meresepkan antibiotik secara rasional.

"Harapannya, angka rujukan dan kasus perburukan mendadak bisa ditekan,” katanya, Rabu, 18 Februari 2026.

Ia menjelaskan, berdasarkan data internal rumah sakit sepanjang Tahun 2025, terdapat peningkatan angka kematian rawat inap dan kenaikan jumlah rujukan ke rumah sakit tingkat lanjut. 

Foto Narasumber RSUD

Selain itu, rata-rata pasien dari ruang rawat inap yang masuk ke ICU terjadi pada hari pertama atau kedua perawatan.

“Rata-rata pasien dari ruang rawat inap yang masuk ke ICU terjadi pada hari pertama atau kedua. Ini menjadi perhatian kita bersama agar deteksi dini bisa dilakukan lebih cepat dan intervensi tidak terlambat,” ujarnya di hadapan peserta.

Pada sesi materi pertama, dr. Zainal Abidin, M.Kes., Sp.An-TI FCC memaparkan konsep EWS secara rinci, mulai dari parameter penilaian hingga mekanisme pelaporan antar tenaga kesehatan. 

Peserta terlihat aktif bertanya terkait implementasi EWS di bangsal rawat inap.

“EWS bukan hanya angka di lembar observasi. Ini alat komunikasi antar tenaga kesehatan agar keputusan klinis bisa diambil lebih cepat,” jelas dr. Zainal.

Sesi berikutnya membahas penggunaan antibiotik secara rasional yang disampaikan dr. Errisa Maisuritadevi Mara, M.Sc., Sp.PK.Foto RSUD

Ia memaparkan data kultur dan sensitivitas kuman RSUD dr. Darsono Tahun 2024 yang menunjukkan dominasi kuman gram negatif serta peningkatan kasus MRSA.

“Dari 186 isolat gram negatif, sensitivitas terhadap antibiotik kelompok acces seperti ampisilin kurang dari 40 persen. Ini menunjukkan perlunya kebijakan antibiotik yang lebih tepat dan berbasis data lokal,” paparnya.

Peserta mencatat sejumlah poin penting terkait pola resistensi kuman dan strategi pengendalian infeksi, terutama di ruang bedah dan ICU yang memiliki angka pertumbuhan kuman lebih tinggi.

Pelatihan berlangsung dengan metode pembelajaran berbasis instruktur, diskusi interaktif, serta pemutaran video edukatif. 

Hingga sesi akhir, peserta tetap mengikuti materi sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan di rumah sakit.(*)

Tombol Google News

Tags:

RSUD dr Darsono Pacitan Diklat Tenaga Medis early warning system Penggunaan Antibiotik Rasional Pelatihan Kesehatan Pacitan ICU Pacitan MRSA Pacitan