KETIK, MALANG – Upaya penanganan banjir di tingkat kelurahan turut ditunjukkan oleh warga di Kelurahan Lowokwaru. Warga tak hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah namun turut terlibat aktif dalam mencari solusi bersama.
Hal tersebut disampaikan oleh Lurah Lowokwaru, Syafril Aries Sandhi, sebagai bagian dari kado warga untuk momen HUT ke-112 Kota Malang yang jatuh tepat di hari Rabu, 1 April 2026. Aries berkisah, sejak ia menjabat di 2022 warga langsung menyerbunya dengan keluhan banjir. Beberapa titik rawan genangan tersebar di sejumlah wilayah, mulai RW 11, RW 4, hingga kawasan Semboja, Flamboyan, Sansevieria, hingga Cempaka Kuning.
"Saat kita tahu ada potensi banjir yang hampir di seluruh Kelurahan Lowokwaru, akhirnya kita mencari tahu penyebab banjir. Baik itu berupa perilaku masyarakat atau penyalahgunaan bangunan yang tidak sesuai maupun karna belum ada drainase atau tangkapan air," ujar Aries kepada Ketik.com
Lurah Lowokwaru turut mendorong masyarakat dalam ikut serta mengatasi dan mencari solusi penanganan banjir. (Foto: Lutfia/Ketik.com)
Setiap hujan deras jajaran kelurahan dan warga turun ke wilayah yang tergenang banjir. Dari upaya pemetaan, dilakukan perencanaan dan diaplikasikan melalui anggaran yang ada.
"Kita memilah setiap wilayah yang memang gorong-gorongnya belum memenuhi syarat fungsi, besarannya maupun kedalamannya. Mulai RW 1 sampai 15, kita mitigasi semua. Dari situ kita perencanaan anggaran melalui usulan-usulan masyarakat," jelasnya.
Usulan dilakukan pada awal 2023 dan terealisasi di 2024. Setelah perjalanan panjang, anggaran perdana Rp1,3 miliar dengan realisasi Rp3 miliar didapatkan untuk penanganan banjir. Mulai dari gorong-gorong besar crossing di kawasan Cempaka Kuning–Sansevieria.
"Ada gorong-gorong besar dari arah barat, kalau hujan deras airnya meluap karena gorong-gorongnya nggak sesuai. Akhirnya kita mengajukan crossing ke PUPR, memotong jalur arus besarnya itu," jelas Aries.
Program tersebut akhirnya berhasil menyelesaikan permasalahan banjir yang biasa terjadi di Semboja dan kawasan sekitar. Selain itu tangkapan air berupa sumur resapan, biopori dan lainnya pun diterapkan.
Saat ini warga Kelurahan Lowokwaru sedang berupaya untuk normalisasi saluran drainase dari bangunan melanggar.
Termasuk dengan kerja bakti membersihkan sedimen-sedimen secara rutin. Warga Kelurahan Lowokwaru turut mendukung Gerakan Angkat Sampah dan Sedimen (GASS) bersama Pemkot Malang.
"Sampai warga punya ide untuk membuat pemancing dan kafe. Bisa jadi kampung tematik dan sekaligus bisa perawatan. Melalui RT Berkelas itu di wilayah RW 7, dekat aliran sungai kecil itu mau dikasih vertical garden. Agar masyarakat sadar tidak boleh membuang sampah ke sungai. Jadi ada tamengnya," tuturnya.
Ia juga menyoroti banyak warga yang membuang aliran air hujan dari talang langsung ke jalan, alih-alih ke gorong-gorong. Kondisi tersebut membuat air yang seharusnya dialirkan ke saluran justru dibuang ke permukaan jalan, sehingga memperparah potensi banjir di lingkungan permukiman.
"Akhirnya Pokmasnya sampai membelikan pipanya itu supaya bisa dipasang dimasukkan ke gorong-gorong. Nah, contohnya seperti itu. Sudah sempat terlapor ke saya dan saya melihat sendiri upaya yang berasal dari keinginan masyarakat," pungkasnya. (*)
