KETIK, SURABAYA – Di balik gemerlap warna-warni dan gemuruh meriah kembang api yang menghiasi langit malam, tersimpan sejarah panjang serta makna lintas budaya dari berbagai negara.
Setiap pergantian tahun hampir selalu diiringi hitung mundur, letupan petasan, dan harapan manusia akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
Namun, bagaimana awalnya kembang api bisa menjadi tradisi global saat malam pergantian tahun?
Dilansir dari American Pyrotechnics Association dan Science Education Center, sejarah kembang api bermula di Liuyang, Tiongkok, sekitar tahun 200 SM.
Pada masa itu, masyarakat menemukan bahwa batang bambu yang dibakar dapat meledak keras karena udara di dalamnya memanas. Ledakan alami ini kemudian dipercaya mampu mengusir roh jahat.
Perkembangan besar terjadi sekitar tahun 800 M ketika para alkemis Tiongkok secara tidak sengaja menciptakan bubuk mesiu dari campuran belerang, arang, dan kalium nitrat. Bubuk ini dimasukkan ke dalam tabung bambu atau kertas, melahirkan kembang api buatan manusia pertama.
Pada abad ke-13, Tiongkok mulai memanfaatkan bubuk mesiu untuk senjata roket. Pengetahuan ini kemudian menyebar ke dunia Arab dan Eropa melalui diplomat, misionaris, serta jalur perdagangan. Penjelajah seperti Marco Polo dan pedagang Arab turut membawa rahasia mesiu ke Italia.
Di Italia, kembang api mengalami transformasi besar. Bangsa Italia mengubahnya dari alat perang menjadi pertunjukan seni. Mereka menjadi pihak pertama yang memproduksi kembang api secara luas untuk menghibur para raja dalam perayaan militer dan keagamaan.
Pada masa awal, kembang api masih sangat berbahaya dan hanya memiliki satu warna dominan, yaitu jingga keemasan.
Terobosan penting terjadi pada 1830-an ketika para inovator Italia menemukan cara menambahkan elemen logam ke dalam bubuk mesiu untuk menghasilkan warna yang beragam.
Stronsium menghasilkan warna merah, barium menciptakan hijau, tembaga memunculkan biru, dan natrium menghasilkan kuning. Inovasi inilah yang melahirkan kembang api warna-warni seperti yang dikenal saat ini.
Sementara itu, di Amerika Serikat, kembang api menjadi tradisi resmi sejak tahun 1777. John Adams mengusulkan perayaan kemerdekaan dengan “pomp, parade, dan iluminasi,” menjadikan kembang api simbol perayaan nasional yang kemudian menyebar ke berbagai momen besar, termasuk tahun baru.
Kembang api akhirnya menjadi ritual wajib malam pergantian tahun karena kepercayaan kuno bahwa suara keras dapat mengusir roh jahat.
Dalam masyarakat modern, makna ini bergeser menjadi simbol untuk “mengusir” kesialan dan kegagalan di tahun lama. Cahaya terang yang meledak di tengah kegelapan malam melambangkan optimisme dan awal yang cerah.
Seiring kemajuan teknologi piroteknik yang semakin aman dan spektakuler, kota-kota besar dunia seperti Sydney, London, dan New York mulai berlomba menyajikan pertunjukan kembang api megah sebagai penanda detik-detik pergantian tahun.
Pada akhirnya, kembang api menjadi bahasa universal perayaan. Tiongkok menemukan bahan ledaknya, Italia memberi warna dan sentuhan seni, sementara Amerika Serikat menjadikannya tradisi perayaan modern yang mendunia. Lebih dari sekadar hiburan, kembang api menjadi pemersatu masyarakat dalam merayakan transisi waktu dan harapan baru.(*)
