Canaya, Kopi Spesialti yang Lahir dari Proses Panas Bumi

25 Januari 2026 12:00 25 Jan 2026 12:00

Thumbnail Canaya, Kopi Spesialti yang Lahir dari Proses Panas Bumi

Moh Ramdan Reza (tengah) saat proses pemetikan biji kopi Canaya. (Foto: infopublik.id)

KETIK, BANDUNG – Di sebuah kedai sederhana di kaki Gunung Kamojang, Kabupaten Bandung, aroma kopi menguar lembut dari gelas kaca bening. Kopi itu disajikan tanpa gula, membiarkan karakter rasanya berbicara apa adanya. Namanya Canaya—bukan nama orang, melainkan sebuah inovasi kopi yang lahir dari pertemuan kreativitas anak muda dan energi panas bumi.

Di balik Canaya berdiri Moh Ramdan Reza, atau akrab disapa Deden. Pria yang mendedikasikan hidupnya di dunia kopi ini memilih jalan yang tak biasa. Ia mengembangkan kopi dengan metode pengeringan yang belum pernah diterapkan sebelumnya: Geothermal Coffee Process (GCP), teknik pengeringan kopi menggunakan panas buangan uap pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Metode tersebut memanfaatkan uap panas dari steam trap fasilitas panas bumi di Kamojang, yang dikelola PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). Panas alami itu menjadi sumber energi alternatif untuk mengeringkan biji kopi, menggantikan ketergantungan pada sinar matahari. Inovasi ini menjadikan Canaya sebagai kopi pertama di dunia yang dikeringkan menggunakan energi panas bumi.

Gagasan ini berangkat dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PGE yang mulai dirintis sejak 2018. Dari proses pendampingan dan eksperimen panjang, lahirlah produk kopi yang kini dikenal luas karena keunikannya. Nama Canaya pun dipilih dengan penuh makna—gabungan kata Sunda can (belum) dan aya (ada), yang berarti “belum ada”. Nama tersebut merefleksikan metode pengolahan kopi yang belum ditemukan di tempat lain.

Keunikan Canaya tak berhenti pada cerita prosesnya. Kopi ini mulai menarik perhatian pasar internasional. Produk kopi Kamojang tersebut telah dinikmati konsumen di Jerman dan Jepang, sementara sejumlah negara lain di Asia dan Eropa menunjukkan minat serupa. Daya tarik utamanya terletak pada proses pengeringan ramah lingkungan yang mampu menjaga konsistensi rasa.

Popularitas Canaya semakin menguat ketika kopi ini diperkenalkan dalam ajang World of Coffee, sebuah pameran kopi berskala global. Melalui forum tersebut, para pelaku industri kopi internasional tertarik untuk melihat langsung proses pengolahan kopi berbasis panas bumi di Kamojang. Dari pertemuan itu, muncul komitmen pembelian dalam jumlah besar dari mitra luar negeri.

Namun, tingginya permintaan belum sepenuhnya dapat dipenuhi. Kapasitas produksi masih terbatas oleh modal dan fasilitas, sehingga hanya sebagian kecil potensi panen kopi Kamojang yang dapat diserap melalui metode pengeringan geotermal. Padahal, kawasan ini memiliki produksi ceri kopi yang melimpah dengan kualitas yang diakui pasar.

Deden optimistis, kopi dengan proses pengeringan panas bumi memiliki masa depan yang panjang. Selain ramah lingkungan, metode ini memungkinkan kontrol suhu yang lebih stabil dibandingkan pengeringan konvensional. Proses yang terukur membuat waktu pengeringan lebih singkat dan hasil rasa lebih konsisten, sebuah faktor penting dalam industri kopi spesialti.

Proses yang lebih terkontrol itu diyakini membuat rasa kopi yang dihasilkan lebih konsisten. "Setiap kopi tentu punya rasa tersendiri, termasuk kopi di sini. Saya mengukurnya, kalau ada pembelian berulang berarti ada indikasi bahwa kopi kita enak, dan konsisten," kata Deden, seperti dikutip dari laman infopublik.id pada Sabtu, 25 Januari 2026. Uni

Berbeda dengan pengeringan berbasis sinar matahari yang sangat bergantung cuaca, panas bumi menyediakan energi yang konstan. Hal ini memberi kepastian dalam proses produksi sekaligus menjaga karakter rasa kopi dari satu musim ke musim berikutnya. Konsistensi itulah yang menurut Deden menjadi alasan utama pembeli kembali melakukan pemesanan ulang.

Sebagai mitra pengembangan, PT Pertamina Geothermal Energy melalui tim pengembangan komunitas menyatakan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan kopi geotermal, termasuk dalam proses ekspor. Keberhasilan menembus pasar global menjadi bukti bahwa produk ini telah memenuhi standar internasional.

Inovasi pengolahan kopi berbasis panas bumi ini bahkan telah memperoleh perlindungan hukum melalui sertifikat paten sederhana dari pemerintah. Dengan fondasi tersebut, kopi Canaya tak hanya menjadi kebanggaan Kamojang, tetapi juga contoh bagaimana energi terbarukan dapat berpadu dengan kearifan lokal dan kewirausahaan untuk menciptakan produk bernilai global.

Di tengah menjamurnya kedai kopi di berbagai kota, kopi Kamojang dengan proses pengeringan panas bumi membuka babak baru: bahwa secangkir kopi bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang keberlanjutan, inovasi, dan masa depan. (*)

Tombol Google News

Tags:

kopi canaya kopi spesialti PANAS BUMI