Benarkah Al-Qur’an Turun pada 17 Ramadan? Ini Penjelasan Ulama

7 Maret 2026 01:35 7 Mar 2026 01:35

Thumbnail Benarkah Al-Qur’an Turun pada 17 Ramadan? Ini Penjelasan Ulama

Ilustrasi satu keluarga sedang membaca Al-Qur'an di rumah pada malam Nuzulul Qur'an. (Desain: Dina Elwarda/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Perbincangan mengenai tanggal turunnya Al-Qur’an kembali ramai dibahas di media sosial. Di Indonesia, tanggal 17 Ramadan dikenal sebagai peringatan Nuzulul Qur’an. Namun, sebagian orang mempertanyakan apakah benar Al-Qur’an memang diturunkan pada tanggal tersebut.

Pasalnya, dalam Surah Al-Qadr disebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar, sementara para ulama berpendapat bahwa malam tersebut berada pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Lantas, mengapa di Indonesia Nuzulul Qur’an justru diperingati pada 17 Ramadan?

Penjelasan mengenai hal ini disampaikan oleh Ustaz Nabil Aziz melalui akun YouTube @Nabilziez pada 16 Maret 2025. Dalam unggahannya, ia menjelaskan bahwa para ulama memiliki penjelasan terkait proses turunnya Al-Qur’an.

Menurutnya, Al-Qur’an diturunkan melalui dua tahap. Penjelasan ini merujuk pada kitab Al-Muyassar fi ‘Ulum al-Qur’an, yang juga digunakan sebagai rujukan pembelajaran Ulumul Qur’an di Fakultas Syariah Universitas Yarmouk, Yordania.

Tahap pertama adalah turunnya Al-Qur’an secara sekaligus ke langit dunia. Peristiwa ini terjadi pada malam Lailatul Qadar, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah dalam Surah Al-Qadr.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada lailatul qadar.” (Qs. al-Qadr:1)

Penjelasan ini juga diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas pada Al-Muyassar fi ‘Ulum al-Qur’an:28, yang menerangkan bahwa turunnya Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar bukan langsung kepada Nabi Muhammad SAW, melainkan diturunkan terlebih dahulu ke langit dunia.

“Yang dimaksud Al-Qur’an turun pada Lailatul Qadar itu bukan turun kepada Nabi Muhammad tapi turun ke langit dunia,” jelasnya lagi.

Sementara tahap kedua adalah turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril. “Nah di sini baru Al-Qur’an diturunkan itu kepada nabi Muhammad melalui malaikat Jibril,” terang Nabil.

Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah lima ayat awal Surah Al-‘Alaq, yang turun ketika beliau sedang berkhalwat di Gua Hira. Peristiwa ini sekaligus menandai diangkatnya Nabi Muhammad sebagai rasul.

Terkait waktu terjadinya peristiwa tersebut, terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa wahyu pertama turun pada hari Senin.

“Itu adalah hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau hari diturunkannya wahyu kepadaku.” (HR. Muslim).

Adapun mengenai bulan turunnya wahyu pertama, sebagian ulama memang memiliki perbedaan pendapat. Dalam kitab Al-Bidayah wa al-Nihayah, disebutkan bahwa ada pendapat yang menyatakan peristiwa itu terjadi pada bulan Rabiul Awal.

Namun, menurut penjelasan Ibnu Katsir, pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa wahyu pertama turun pada bulan Ramadan, tepatnya ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun.

Meski demikian, para ulama berbeda pendapat mengenai tanggal pasti turunnya wahyu pertama di bulan Ramadan.

“Ada yang bilang terjadi tanggal 12, ada yang bilang 17 dan ada juga yang bilang tanggal 24, nah kebetulan yang dipakai umumnya masyarakat Indonesia itu tanggal 17 Ramadan,” terangnnya.

Penetapan ini berdasarkan dengan riwayat dari Al-Waqidi dalam kitab Al-Bidayah wa al-Nihayah:4/15 yang menyebut tanggal tersebut sebagai waktu turunnya wahyu pertama.

Pendapat tersebut dikuatkan dengan firman Allah dalam Surah Al-Anfal ayat 41 yang menyebut istilah Yaumul Furqan, yaitu hari ketika kebenaran dan kebatilan dipisahkan.

“Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad) pada hari al-furqan (pembeda), yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. al-Anfal:41)

Ayat ini sering dihubungkan dengan peristiwa Perang Badar, yang secara masyhur terjadi pada tanggal 17 Ramadan.

“Di sana dimaknai bahwa Al-Qur’an itu turun pada yaumul furqan, hari dimana bertemunya dua pasukan dan ini maksudnya adalah perang badar,” jelasnya terkait ayat tersebut.

Karena itu, sebagian ulama memahami bahwa peringatan Nuzulul Qur’an pada 17 Ramadan memiliki kaitan simbolik dengan peristiwa besar dalam sejarah Islam tersebut.

Meski terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai tanggal pastinya, para ulama menegaskan bahwa hal ini merupakan bagian dari khazanah ijtihad dalam kajian sejarah Islam. Yang terpenting bagi umat Islam adalah mengambil hikmah dari turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi manusia. (*)

Tombol Google News

Tags:

Lailatul Qadar Malam 17 Ramadan Nuzulul Quran Turunnya Al-Qur'an Nuzulul Qur'an di Indonesia