Hari kemarin di Bursa Efek Indonesia (BEI) rasanya mirip orang yang baru datang ke kolam renang pagi-pagi. Matahari belum tinggi, badan belum panas, tapi karena ikut-ikutan teman, langsung nyemplung. Begitu kaki kena air, reaksi pertama hampir seragam:
“WADUH DINGIN!”
Bedanya, kalau di kolam renang masih bisa pura-pura santai demi gengsi, di pasar saham gengsi tidak laku. Layar langsung merah, indeks melemah, dan banyak investor mendadak introspeksi hidup. Grup WhatsApp saham pun berubah fungsi: dari tempat diskusi jadi ruang curhat massal.
Pemicu drama ini satu: MSCI
Begitu nama Morgan Stanley Capital International (MSCI) muncul di berita, pasar langsung bereaksi seolah-olah besok bursa mau tutup dan saham berubah jadi voucher parkir. Padahal, kalau ditarik napas sebentar, ceritanya tidak seseram itu.
MSCI Itu Bukan Mantan, Jadi Tidak Perlu Baper
MSCI sering diperlakukan seperti mantan yang tiba-tiba nge-chat: bikin deg-degan, panik, dan overthinking. Padahal MSCI itu bukan mantan. Ia lebih mirip dosen pembimbing: cerewet, kritis, dan suka kasih catatan merah di pinggir kertas.
Masalahnya, banyak yang membaca catatan itu sebagai hukuman, bukan masukan.
MSCI bicara soal likuiditas, free float, akses pasar, dan konsistensi aturan. Ini bukan gosip baru. Ini PR lama yang sebenarnya sudah lama kita tahu, tapi sering kita tunda karena pasar lagi enak-enaknya.
Ibarat rumah, selama tidak bocor, atapnya dibiarkan. Begitu hujan deras, baru semua panik cari ember.
Pasar Saham Turun, Tapi Hidup Tidak Ikut Down
Salah satu kesalahpahaman paling klasik adalah menganggap turunnya indeks sama dengan kiamat ekonomi. Padahal, kemarin meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merah, hidup tetap berjalan normal.
Orang tetap ngopi.
Ojol tetap narik.
Warung tetap buka.
Dan UMKM tetap jualan, bahkan sambil tidak tahu MSCI itu singkatan apa.
Pasar saham itu memang sensitif. Dia mudah kaget, mudah baper, dan suka bereaksi berlebihan. Ekonomi riil lebih kalem. Dia bangun pagi, kerja, lalu pulang tanpa drama.
Asing Jual Bukan Berarti Kabur Bawa Koper
Setiap ada gejolak, selalu muncul kalimat sakti:
“ASING KABUR!”
Padahal kenyataannya, yang terjadi sering kali cuma asing geser kursi, bukan angkat koper. Mereka menyesuaikan posisi, menghitung ulang risiko, lalu menunggu kepastian. Ini normal di pasar global.
Investor asing itu seperti penonton konser berpengalaman: kalau panggung goyang, mereka geser agak ke belakang, bukan langsung pulang sebelum lagu terakhir.
Investor Ritel: Jangan Panik, Dompet Tidak Bisa Berenang
Bagi investor ritel, momen seperti ini sering jadi ujian emosi. Ada yang panik jual, ada yang nekat beli, ada juga yang pura-pura tidak buka aplikasi saham demi kesehatan mental.
Padahal pasar modal bukan lomba adu nyali. Dia lebih mirip maraton, bukan sprint. Yang penting bukan siapa paling cepat masuk atau keluar, tapi siapa paling konsisten menjaga strategi.
Ingat satu hal penting: dompet tidak bisa berenang. Kalau nyemplung ke kolam air dingin tanpa persiapan, ya wajar kaget.
Indonesia Itu Bukan Negara Kaleng-Kaleng
Kalau kita berhenti sebentar dari layar merah dan lihat gambaran besar, Indonesia itu sebenarnya punya modal besar untuk pasar modal yang kuat.
Kita punya:
pasar domestik raksasa
penduduk produktif yang masih tumbuh
sumber daya alam strategis
ekonomi digital yang larinya kencang
dan investor ritel yang jumlahnya terus bertambah
Masalah kita bukan kekurangan bahan bakar. Kita cuma perlu mesin yang lebih rapi dan setir yang lebih stabil.
Air Dingin Itu Fungsinya Bikin Melek
Masuk kolam air dingin memang bikin kaget. Tapi justru itu fungsinya: bikin melek. Pasar yang tidak pernah dikoreksi biasanya bukan pasar sehat, tapi pasar yang lagi denial.
Sinyal dari MSCI ini seharusnya dilihat sebagai alarm, bukan sirene kebakaran. Alarm itu bukan buat bikin panik, tapi buat bangun dan beres-beres sebelum terlambat.
Kalau regulator, emiten, dan pelaku pasar mau menjadikan momen ini sebagai titik perbaikan—bukan sekadar ribut sehari lalu lupa—maka pasar modal Indonesia justru bisa keluar lebih kuat.
Optimisme Tidak Perlu Berisik
Optimisme itu bukan berarti bilang “semua baik-baik saja”. Optimisme itu bilang, “ada masalah, tapi bisa dibenahi”.
Indonesia tidak sedang jatuh. Kita sedang belajar berenang di kolam yang lebih besar. Airnya dingin, iya. Tapi kolamnya luas. Dan kita belum kehabisan napas.
Penutup: Jangan Lompat Keluar, Belajar Renang
Kalau setiap kali air dingin kita langsung lompat keluar kolam, kita tidak akan pernah berenang jauh. Bursa Efek Indonesia sedang berada di fase belajar itu: belajar lebih rapi, lebih disiplin, dan lebih dewasa.
Pasar boleh berisik. Grafik boleh merah. Tapi potensi negeri ini tidak luntur hanya karena satu hari penuh drama.
Karena pada akhirnya, pasar modal bukan soal siapa paling panik, tapi siapa yang paling tenang saat semua orang teriak.
Airnya dingin.
Drama ada.
Tapi kolamnya masih menjanjikan.
*) H.TB Raditya Indrajaya SE, adalah Ketua ARDIN Jawa Barat
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Karikatur by Ketik.com
****) Ketentuan pengiriman naskah opini:
Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id.
Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
