Di Bawah Ancaman Longsor Susulan, Hulubalang Indonesia Menyisir Zona A1–A2 Demi Sisa Harapan

31 Januari 2026 22:57 31 Jan 2026 22:57

Thumbnail Di Bawah Ancaman Longsor Susulan, Hulubalang Indonesia Menyisir Zona A1–A2 Demi Sisa Harapan

Relawan Hulubalang Indonesia. (Foto:Hulubalang)

KETIK, BANDUNG – Tanah basah, udara dingin, dan aroma lumpur masih menyelimuti Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat.

Di balik puing-puing rumah yang runtuh dan perbukitan yang terbelah, harapan belum sepenuhnya padam. Di lokasi inilah para relawan kembali menapaki medan berbahaya, menyusuri tanah yang setiap saat bisa kembali bergerak.

Di antara mereka, 10 personel Tim Rescue Hulubalang Indonesia berdiri sejajar dengan Tim SAR Gabungan. Tanpa sorotan, tanpa hiruk pikuk, mereka turun ke zona A1 hingga A2—wilayah paling rawan dalam tragedi longsor yang merenggut puluhan nyawa dan meninggalkan ratusan warga tanpa rumah.

Langkah-langkah itu bukan sekadar prosedur penyelamatan. Setiap ayunan cangkul, setiap seruan antarrelawan, membawa satu tujuan: menemukan mereka yang belum kembali.

Chief Commander Hulubalang Indonesia, Ryza Rizaldy—atau yang akrab disapa Ojos menyebutkan bahwa kehadiran timnya adalah panggilan nurani.

“Ini bukan soal organisasi, bukan soal atribut. Ini soal kemanusiaan. Selama masih ada yang belum ditemukan, kami akan terus bergerak,” ujar Ojos lirih di sela-sela operasi pencarian.

Tim Rescue Hulubalang Indonesia dikerahkan penuh di sektor A1 hingga A2, area dengan tingkat kerusakan terparah di Desa Pasirlangu. Tanah labil dan cuaca yang tak menentu menjadi tantangan harian.

Namun bagi para relawan, rasa lelah kerap dikalahkan oleh satu harapan kecil—menemukan korban, atau setidaknya memberi kepastian bagi keluarga yang menunggu dalam diam.

Data kebencanaan mencatat, Kecamatan Cisarua menjadi wilayah paling terdampak. Sebanyak 48 rumah rusak berat, satu fasilitas umum dan satu tempat ibadah terdampak. 51 kepala keluarga atau 158 jiwa terdampak langsung, sementara 44 KK atau 146 jiwa terpaksa mengungsi. Hingga kini, 10 orang masih dinyatakan dalam pencarian.

Di lokasi pengungsian, yang dipusatkan di Aula Desa dan GOR Desa Pasirlangu, waktu seolah berjalan lebih lambat. Tangis tertahan, doa yang berulang, dan tatapan kosong menjadi pemandangan sehari-hari. Setiap suara dari arah bukit membuat warga terdiam—takut, namun berharap.

Sementara itu, di Kecamatan Lembang, longsor juga menyisakan luka. Satu rumah hancur, dua nyawa melayang, dan keluarga yang kini harus belajar hidup dengan kehilangan.

BPBD Provinsi Jawa Barat bersama BPBD Kabupaten Bandung Barat terus memperpanjang masa pencarian hingga tujuh hari ke depan. Medan yang berat dan potensi longsor susulan membuat setiap operasi dilakukan dengan kehati-hatian tinggi.

Namun di balik semua keterbatasan itu, para relawan tetap bertahan. Hulubalang Indonesia, bersama Tim SAR dan relawan lainnya, memilih untuk tetap berdiri di garis depan—di antara tanah yang runtuh dan harapan yang belum ingin menyerah.

Di Cisarua, kemanusiaan bekerja dalam sunyi. Dan di setiap langkah penyisiran, ada doa yang terus berjalan bersama mereka.(*)

Tombol Google News

Tags:

Longsor longsor cisarua longsor kbb kbb relawan Tim SAR Tim SAR Gabungan