KETIK, NAGAN RAYA – Suara tangis, keheningan, dan lumpur tebal kini menjadi saksi bisu kehancuran besar yang melanda Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh.
Banjir bandang yang turun beberapa hari lalu bukan sekadar bencana, tetapi tragedi yang merenggut rumah, harapan, dan kehidupan warga dalam sekejap.
Menurut informasi dari masyarakat, setidaknya 200 lebih rumah warga hancur total. Banyak di antaranya bukan hanya rusak, namun lenyap, berubah menjadi jalur sungai baru yang terbentuk dari derasnya arus air yang menghantam tanpa ampun.
Tak berhenti di situ, satu tempat ibadah dan dua bangunan sekolah juga tersapu banjir. Kini, lokasi pendidikan dan ibadah yang dahulu menjadi pusat aktivitas masyarakat hanya menyisakan puing dan pasir.
Hingga Sabtu, 29 November 2025, ratusan warga masih terjebak dan terisolasi. Akses jalan utama terputus, jembatan roboh, dan tidak ada jalur yang bisa ditempuh untuk memasukan bantuan secara normal. Aktivitas warga lumpuh total, mereka kini hanya bisa bertahan dengan apa yang tersisa.
Tiga desa menjadi titik kehancuran paling parah, yaitu Blang Puuk, Babah Suak, dan Kuta Teungoh. Kondisi Kuta Teungoh disebut nyaris tak tersisa. Bahkan warga menyebut tempat itu tak lagi tampak seperti desa, melainkan lautan lumpur dan batu.
Salah satu rumah warga Beutong Ateuh Banggalang roboh akibat banjir, Sabtu, 29 November 2025. (Foto: Basriadi/Ketik)
Diperkirakan sekitar 700 kepala keluarga kini kehilangan tempat tinggal, tidur di alam terbuka, atau berteduh di lokasi seadanya sambil menunggu bantuan tiba.
Camat Beutong Ateuh Banggalang, Zulkifli, menggambarkan kondisi di wilayahnya dengan suara bergetar. Empat hari berlalu, tanpa listrik, tanpa sinyal komunikasi, warga melewati malam dalam gelap, dingin, dan ketakutan. Ironis dan menyayat hati, rumah pribadi sang camat juga ikut rata dengan tanah.
“Rumah saya pribadi juga sudah rata dengan tanah, setidaknya sudah 80 persen pemukiman Beutong Ateuh Banggalang lenyap, bisa dikatakan Beutong Ateuh sudah tinggal nama saja,” ungkap Zulkifli.
Kalimat itu seolah menjadi penanda bahwa bukan hanya warganya yang kehilangan, akan tetapi juga siapa pun yang pernah menyebut Beutong Ateuh sebagai rumah.
Untuk menjangkau wilayah yang terisolasi, tim SAR gabungan kini harus menggunakan metode flying fox. Tali ditarik di antara dua sisi sungai, dan dari situ bantuan logistik digeser perlahan, berharap bisa menyentuh tangan warga yang menunggu dengan penuh harap.
Namun upaya penyelamatan masih jauh dari kata selesai. Kata Zulkifli, laporan terbaru menyatakan bahwa ada warga yang hilang.
“Laporan dari masyarakat ada dua orang warga yang hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya, warga menduga terbawa arus, sekarang masih kita upayakan untuk mengevakuasi korban secara mandiri," sebutnya.
Di sisi lain, satu orang lain masih terjebak di tengah aliran sungai yang masih sangat deras. Upaya penyelamatan tidak bisa dilakukan secara langsung karena risiko yang mengancam tim evakuasi.
Meski air perlahan surut, jalan menuju pemukiman masih terkunci oleh longsor, pohon tumbang, dan sisa banjir. Pendataan kerusakan dan korban pun belum tuntas. Banyak warga belum ditemukan, belum terdata, bahkan belum tersentuh bantuan pertama.
Kini, Beutong Ateuh Banggalang bukan hanya wilayah bencana, tetapi wilayah yang sedang berjuang untuk tetap ada. Satu harapan tersisa, bantuan segera datang sebelum hujan berikutnya turun. (*)
