KETIK, PACITAN – Kasus diare massal di Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan, diduga dipicu pencemaran sumber air oleh bakteri Escherichia coli (E. coli).
Kepala Puskesmas Sukorejo Pacitan, Anis Arahmaningtyas mengatakan, pihak puskesmas telah melakukan penyelidikan epidemiologi untuk menelusuri sumber penularan.
Dari hasil pemeriksaan, sampel air yang digunakan warga ditemukan mengandung bakteri E. coli.
“Sampel air memang terdapat Escherichia coli,” ungkap Anis, Jumat, 23 Januari 2026.
Ia mengungkapkan peningkatan kasus diare di wilayah kerjanya terjadi pada periode 4-21 Januari 2026. Selama rentang waktu tersebut tercatat 38 pasien rawat jalan dan satu pasien rawat inap.
“Ada peningkatan, tapi tidak signifikan dibanding sebelumnya,” ujarnya.
Ia juga meluruskan informasi yang menyebut adanya ratusan kasus diare di wilayah kerjanya. Menurut Anis, angka tersebut bukan berasal dari Puskesmas Sukorejo.
“Ratusan kasus itu bukan di wilayah kerja kami. Semua sudah kami laporkan ke dinkes,” katanya.
Wilayah kerja Puskesmas Sukorejo meliputi Desa Sukorejo, Sumberejo, Pagerlor, dan Pager Kidul. Seluruh desa tersebut telah menjalani program jambanisasi, namun penerapan perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS masih perlu diperkuat.
“Diare ini penyakit berbasis lingkungan. PHBS masyarakat tetap kunci. Kami lakukan penyuluhan rutin,” jelasnya.
Sementara itu, di wilayah kerja Puskesmas Sudimoro hingga Jumat, 23 Januari 2026, tidak ada pasien diare yang menjalani rawat inap. Meski demikian, di tingkat warga, kasus diare sempat dirasakan cukup luas.
Partin (60), warga Dusun Krajan, Desa Sudimoro, mengaku cucunya sempat mengalami diare ringan.
“Kemarin cucu saya sehari kena diare, mual dan panas, tapi sekarang sudah sembuh,” katanya.
Menurut Partin, kasus diare di lingkungannya sempat merebak dan menyerang berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga lansia, meski kini mulai mereda.
“Sempat banyak yang kena, anak-anak sampai lansia. Sekarang sudah reda,” ujarnya.
Hingga Jumat, 23 Januari 2026, Dinas Kesehatan Pacitan mencatat sebanyak 290 kasus diare di wilayah tersebut. Sementara itu, cakupan sanitasi di Kecamatan Sudimoro baru mencapai sekitar 70 persen.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Pacitan, Nunuk Irawati, membenarkan adanya peningkatan laporan diare dari seluruh desa di Kecamatan Sudimoro.
Data tersebut saat ini masih dalam proses verifikasi by name by address.
“Ada lonjakan kasus diare di Kecamatan Sudimoro. Data kita himpun dari seluruh desa. By name by address sedang kita kumpulkan,” kata Nunuk, Jumat, 23 Januari 2026.
Ia menjelaskan, angka ratusan kasus yang sebelumnya beredar masih berupa laporan keluhan awal dan belum seluruhnya disertai identitas pasien.
Meski demikian, seluruh penderita telah mendapatkan penanganan.
“Data yang kemarin terilis itu masih keluhannya, belum ada namanya. Tapi sejauh ini pasien tertangani dengan baik,” ujarnya.
Selain diare, keluhan yang banyak muncul adalah mual dan muntah. Laporan terbanyak diterima pada periode 12-19 Januari 2026 dan saat ini masih dicocokkan dengan data dari bidan desa.
“Kami masih verifikasi dengan bidan desa. Keluhannya mual, muntah juga,” jelas Nunuk.
Dari hasil pemeriksaan sementara, Dinkes Pacitan mencurigai sumber air sebagai faktor utama penyebaran. Sampel feses pasien telah diambil, namun hasil laboratorium masih menunggu.
“Kemarin kita ambil sampel feses. Hasilnya belum keluar. Dugaan sementara mengarah ke sumber air,” katanya.
Sebagai langkah cepat, Dinkes Pacitan melakukan klorinasi pada sumber mata air di tiga wilayah, yakni Desa Ketanggungan, Klepu, dan Sudimoro. Upaya ini dilakukan untuk memutus mata rantai penularan penyakit.
“Kita lakukan klorinisasi, uji T, untuk memutus mata rantai penularan,” ujar Nunuk.
Dugaan pencemaran mengarah pada kontaminasi mikrobiologi, khususnya bakteri E. coli yang ditemukan pada sumur dan sumber air warga.
Di sisi lain, persoalan sanitasi masih menjadi tantangan, mengingat cakupan sanitasi dan kepemilikan jamban layak di Sudimoro baru sekitar 70 persen.
“Sanitasi baru jalan 70 persen. Jamban layak juga sekitar 70 persen. Ini tantangan kita bersama,” pungkas Nunuk.(*)
