KETIK, SURABAYA – Penceramah Yahya Zainul Ma’arif Jamzuri atau yang lebih dikenal sebagai Buya Yahya menjelaskan makna hadis tentang setan yang dibelenggu saat bulan suci Ramadan. Penjelasan tersebut disampaikan melalui kanal YouTube @buyayahyaofficial pada 23 Januari 2026.
Dalam ceramahnya, Buya Yahya mengutip pendapat Qadhi Iyadh, ulama besar asal Maroko, terkait makna dibelenggunya setan di bulan Ramadan. Ia menyebut para ulama memiliki perbedaan pandangan dalam memahami hadis tersebut. Sebagian memaknainya secara hakiki atau benar-benar terjadi.
“Qadhi Iyadh mengatakan bahwa dibelenggunya setan, menurut sebagian ulama memang dibelenggu secara sesungguhnya,” ujar Buya Yahya.
Namun demikian, muncul pertanyaan di tengah masyarakat: jika setan benar-benar dibelenggu, mengapa masih ada orang yang bermaksiat di bulan Ramadan?
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon itu menjelaskan bahwa sumber kemaksiatan bukan semata-mata karena godaan setan, melainkan berasal dari hawa nafsu manusia yang telah terbiasa melakukan dosa.
“Maksiatnya seorang hamba di bulan Ramadan bukan karena ulah setan, tapi karena hawa nafsunya yang sudah terbiasa dengan kehinaan,” tegasnya.
Ia bahkan mengutip sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa hawa nafsu bisa lebih berbahaya daripada setan. “Hawa nafsu yang ada pada kita ini ternyata lebih keji, lebih kejam, lebih jahat daripada 70 setan,” ujar pendakwah asal Blitar tersebut.
Selain dimaknai secara hakiki, sebagian ulama lain memahami hadis tersebut secara kiasan. Maksudnya, peluang untuk bermaksiat menjadi lebih kecil karena suasana Ramadan dipenuhi syiar kebaikan. Ibadah seperti puasa dan salat tarawih menjadi pengingat kuat bagi umat Islam untuk menahan diri.
Pendiri Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah itu juga mengingatkan bahwa hawa nafsu tidak hanya berkaitan dengan syahwat, tetapi melibatkan seluruh anggota tubuh. Lidah yang terbiasa menggunjing di luar Ramadan, misalnya, tetap bisa melakukannya saat berpuasa jika tidak dikendalikan.
Hal yang sama berlaku pada pandangan mata maupun kebencian dalam hati. Jika tidak dilatih untuk dikontrol, kebiasaan buruk tersebut tetap akan muncul meski setan disebut dibelenggu. Ia menegaskan bahwa Ramadan sejatinya menjadi momentum melatih pengendalian diri.
“Mari kita memerangi hawa nafsu, sebab di bulan Ramadan setan sudah tidak berkiprah lagi. Akan tetapi, hawa nafsu kita yang sudah dilatih oleh setan bertahun-tahun jika tidak kita perangi, maka hawa nafsu ini akan mengajak kita kepada kehinaan,” pungkasnya. (*)
