KETIK, SURABAYA – Tradisi hitung mundur atau countdown kini identik dengan perayaan malam pergantian tahun. Namun, jauh sebelum menjadi momen penuh harapan, hitung mundur justru lahir dari suasana tegang dan penuh ancaman. Tradisi countdown tercatat mengalami perubahan makna seiring perkembangan zaman.
1. Berawal dari Jam Kiamat dan Ancaman Bom Atom
Konsep hitung mundur pertama kali dikenal luas setelah Perang Dunia II. Kelompok ilmuwan Chicago Atomic Scientists menerbitkan Bulletin of the Atomic Scientists dengan ilustrasi jam di sampulnya. Gambar tersebut dirancang oleh seniman Martyl Langsdorf pada 1947 dan dikenal sebagai Jam Kiamat (Doomsday Clock).
Jam ini menjadi simbol peringatan seberapa dekat umat manusia dengan kehancuran akibat teknologi buatan manusia, khususnya senjata nuklir. Ketegangan Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet membuat hitung mundur identik dengan rasa cemas dan ancaman bencana global.
Makna tersebut semakin menguat saat percobaan ledakan bom atom di Nevada pada 22 April 1952 disiarkan secara langsung di televisi. Detik-detik menjelang ledakan ditandai dengan hitung mundur. Akibat hal ini, pandangan publik tehadap countdown jadi berkaitan dengan sesuatu yang berbahaya.
2. Peluncuran Roket Apollo Ubah Makna Countdown
Memasuki era 1960-an, pandangan masyakarat terhadap hitung mundur mulai membaik. Peluncuran roket luar angkasa Amerika Serikat untuk misi ke bulan menjadikan countdown sebagai simbol harapan dan pencapaian besar umat manusia. Dilansir dari Smithsonian Magazine, tradisi hitung mundur peluncuran roket terinspirasi dari film fiksi ilmiah Woman in the Moon karya Fritz Lang (1929). Siaran langsung peluncuran roket, termasuk misi bersejarah Apollo 11, menghadirkan energi positif bagi masyarakat. Keberhasilan Neil Armstrong, Buzz Aldrin, dan Michael Collins mendarat di bulan menjadikan hitung mundur sebagai lambang keberanian dan kemajuan teknologi.
3. Bola Waktu dan Kembang Api Penanda Tahun Baru
Sebelum hitung mundur populer dalam perayaan tahun baru, masyarakat lebih dulu mengenal tradisi bunyi lonceng gereja dan kembang api. Perubahan besar terjadi ketika pemilik The New York Times, Adolf Ochs, memindahkan kantor pusat ke Times Square pada 1904. Setelah larangan penggunaan bahan peledak, Ochs menciptakan alternatif perayaan dengan menjatuhkan bola raksasa berlampu dari puncak gedung untuk menandai pergantian tahun.
Dilansir Britannica, tradisi ini terinspirasi dari kebiasaan maritim menjatuhkan bola waktu untuk menyelaraskan kronometer kapal. Perayaan pertama dilakukan pada 31 Desember 1906 dan menjadi daya tarik utama yang mengundang ribuan orang ke Times Square hingga kini.
4. Awal Mula Hitung Mundur Malam Tahun Baru
Hitung mundur tahun baru pertama kali tercatat pada akhir 1957. Penyiar radio Benjamin Grauer saat itu menyebutkan “’58 sedang dalam perjalanan” yang kemudian dilanjutkan dengan menghitung mundur dari angka lima, bersamaan dengan turunnya bola waktu di Times Square dan tahun pun berganti menjadi 1958. Meski belum langsung populer, tradisi ini terus dilakukan hingga akhirnya diperkenalkan secara luas oleh Dick Clark melalui siaran televisi pada 1973. Sejak akhir 1970-an, countdown menjadi bagian tak terpisahkan dari pesta tahun baru, didukung pemasangan jam hitung mundur raksasa yang memungkinkan masyarakat ikut menghitung detik menuju tahun baru.
5. Countdown di Radio dan Televisi
Istilah countdown juga berkembang lewat dunia hiburan. Di Australia, program musik populer berjudul Countdown pada 1970-an menampilkan daftar lagu hit dengan sistem hitung mundur peringkat. Konsep serupa kemudian diadopsi oleh berbagai program radio dan televisi di dunia.
Sementara itu di Inggris, acara permainan Countdown menampilkan peserta yang harus menaklukkan tantangan kata dan angka dalam batas waktu tertentu. Jam besar yang digunakan mengingatkan pada Jam Kiamat, namun dengan pesan optimistis: waktu bisa dikalahkan dan tantangan dapat diatasi.
Perjalanan panjang tradisi hitung mundur menunjukkan bagaimana sebuah simbol dapat berubah makna. Dari penanda ancaman kehancuran dunia, countdown kini menjadi lambang harapan, awal baru, dan semangat menatap masa depan. (*)
