KETIK, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memastikan negaranya batal menyerang Iran pada pertengahan bulan Januari 2026 ini. Keputusan itu diambil setelah Trump mengaku mendapatkan informasi bahwa rezim Iran telah menunda keputusan eksekusi mati terhadap ratusan demonstran yang mengguncang Teheran beberapa pekan ini.
Pernyataan pembatalan itu disampaikan Presiden Donald Trump pada Jumat, 16 Januari 2026, saat menjawab pertanyaan sejumlah wartawan. Media Israel, the Times of Israel melaporkan, sejak beberapa hari sebelumnya, Kepala badan intelijen Israel Mossad, David Barnea, dilaporkan berada di Amerika Serikat untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat tinggi pemerintahan AS mengenai Iran.
Kunjungan ini berlangsung di tengah meredanya gelombang protes anti-pemerintah di Iran, menyusul penindakan keras aparat keamanan yang menewaskan banyak demonstran.
Barnea dilaporkan berada di Washington sejak 16 Januari 2026 dan dijadwalkan bertemu dengan pejabat Gedung Putih yang menangani isu Iran. Meski tidak ada pengumuman resmi mengenai agenda pertemuan tersebut, sumber-sumber diplomatik menyebut pembicaraan itu berfokus pada perkembangan terbaru di Iran dan langkah lanjutan yang mungkin diambil oleh Amerika Serikat.
Kunjungan bos salah satu badan intelejen paling elit di dunia ini terjadi hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat mempertimbangkan, lalu menahan diri, dari kemungkinan serangan militer terhadap Iran. Situasi di Teheran menjadi perhatian serius Washington dan Tel Aviv sejak akhir Desember 2025, ketika gelombang protes besar pecah akibat krisis ekonomi dan tuntutan perubahan politik.
Protes tersebut dilaporkan mulai mereda dalam beberapa hari terakhir setelah aparat keamanan Iran menekan demonstrasi secara brutal. Meski demikian, laporan media menyebutkan masih terjadi aksi sporadis di sejumlah wilayah, sementara suasana politik di dalam negeri Iran tetap tegang.
Israel disebut sangat mempertimbangkan potensi serangan balik skala maksimal dari Iran jika Amerika Serikat benar-benar menyerang negara teokratis tersebut. Barnea dilaporkan membahas berbagai skenario dengan pejabat elite Amerika Serikat, termasuk dampak penindakan Iran terhadap demonstran, stabilitas rezim di Teheran, serta implikasi keamanan regional. Israel memandang Iran sebagai ancaman strategis utama, baik karena program militernya maupun pengaruhnya melalui kelompok proksi di kawasan.
The Times of Israel juga mencatat bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya telah berkomunikasi dengan Presiden AS Donald Trump terkait Iran. Dalam pembicaraan itu, Netanyahu dilaporkan meminta agar Washington menunda langkah militer, menunjukkan adanya koordinasi erat namun juga kehati-hatian di antara kedua sekutu tersebut.
Sementara itu, Trump dalam pernyataan terpisah mengatakan bahwa keputusan AS untuk tidak menyerang Iran dipengaruhi oleh kabar bahwa pemerintah Iran membatalkan rencana eksekusi massal terhadap para demonstran. Trump menyatakan bahwa perkembangan tersebut memiliki dampak besar terhadap keputusannya untuk menahan opsi militer.
Iran sendiri telah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap wilayahnya akan dibalas, dan menyebut Amerika Serikat serta Israel sebagai target sah jika konflik bersenjata pecah. Ancaman tersebut menjadi bagian dari kalkulasi strategis yang dipertimbangkan oleh Washington dan Tel Aviv.
Kunjungan Barnea ke AS menegaskan bahwa meskipun protes di Iran mulai mereda, isu Iran masih menjadi prioritas tinggi dalam koordinasi intelijen dan keamanan antara Israel dan Amerika Serikat. Situasi di Teheran dinilai belum stabil, dan perkembangan di dalam negeri Iran tetap dipandang berpotensi memicu eskalasi baru di kawasan.
Hingga pertengahan Januari 2026, tidak ada indikasi bahwa ketegangan ini akan segera mereda sepenuhnya. Keterlibatan langsung kepala Mossad dalam pembicaraan di Washington menunjukkan bahwa Israel dan Amerika Serikat terus menyiapkan berbagai opsi, sambil mencermati dengan saksama dinamika internal Iran dan dampaknya terhadap keamanan regional.
