KETIK, PROBOLINGGO – Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, menjadi momentum penting lahirnya langkah konkret penguatan ekonomi pesantren.
Dalam forum Halaqah Alumni yang digelar Sabtu, 17 Januari 2026, Wizstren menegaskan kesiapannya mendorong Pondok Pesantren Nurul Jadid sebagai percontohan nasional Program Dana Abadi Pesantren.
Kehadiran jajaran Wizstren disambut langsung oleh Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Abdul Hamid Wahid, serta Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, KH Ahmad Faiz Abdul Haq Zaini.
Dialog tersebut membahas arah strategis pesantren dalam memperkuat peran sosial dan ekonomi di tengah masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan istigosah bersama, kemudian dilanjutkan sambutan pimpinan pesantren. KH Abdul Hamid Wahid menegaskan pentingnya pesantren untuk terus membaca perubahan zaman.
“Pesantren hari ini dituntut tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga mandiri secara ekonomi agar manfaatnya semakin luas,” ujar KH Abdul Hamid Wahid.
Senada dengan itu, KH Moh. Zuhri Zaini menekankan bahwa kemandirian ekonomi merupakan bagian dari ikhtiar pesantren dalam menjaga keberlanjutan peran keumatan.
“Penguatan ekonomi adalah salah satu jalan agar pesantren tetap relevan dan berdaya di tengah masyarakat,” tuturnya.
Halaqah alumni tahun ini mengangkat tema “Pemberdayaan Ekonomi Keummatan Berbasis Ketahanan Pangan”. Tema tersebut berangkat dari sejarah panjang Nurul Jadid yang tumbuh bersama potensi ekonomi lokal.
Komoditas kelapa dan tembakau yang dulu menjadi ciri wilayah Paiton, telah berkembang menjadi fondasi aktivitas ekonomi yang menopang pesantren dan masyarakat sekitar.
Direktur Eksekutif Nasional Wizstren, Robert Edy S, dalam pemaparannya menjelaskan visi Wizstren sebagai wadah sinergi ekonomi pesantren. Ia memperkenalkan sejumlah program strategis, termasuk Program Dana Abadi Pesantren.
“Dana Abadi Pesantren kami rancang sebagai sumber pembiayaan jangka panjang yang dikelola secara profesional, agar pesantren memiliki ketahanan ekonomi yang berkelanjutan,” jelas Robert.
Dalam forum tersebut, Wizstren menyampaikan keinginannya menjadikan Pondok Pesantren Nurul Jadid sebagai mitra strategis sekaligus lokasi pilot project Dana Abadi Pesantren tingkat nasional.
“Kami melihat Nurul Jadid memiliki ekosistem yang kuat, mulai dari kelembagaan hingga jaringan alumni yang luas. Ini modal besar untuk menjadi model nasional,” tegas Robert Edy S.
Ia menambahkan, Wizstren lahir dari kesadaran akan besarnya potensi ekonomi pesantren yang selama ini belum terkelola secara optimal. Dengan sinergi antar pesantren dan jaringan alumni Nurul Jadid yang tersebar di berbagai daerah.
Wizstren juga berharap penguatan ekonomi pesantren dapat berjalan lebih masif, terarah, dan memberikan dampak nyata bagi kemandirian ekonomi umat.(*)
