KETIK, BONDOWOSO – Aktivitas belajar mengajar di SD Negeri Kelabang II, Kecamatan Tegalampel, Kabupaten Bondowoso, berlangsung di tengah kondisi bangunan yang memprihatinkan.
Sejumlah ruang kelas yang mengalami kerusakan berat tetap digunakan oleh siswa kelas 1 hingga kelas 6 karena tidak ada ruang lain yang bisa dipakai.
Beberapa bagian kelas bahkan harus disangga dengan bambu agar tetap berdiri. Atap dan plafon yang rusak serta sebagian telah ambrol menjadi pemandangan yang hampir setiap hari terlihat di ruang belajar. Meski situasi tersebut membahayakan, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa.
Salah satu guru di sekolah tersebut, Mula Wiji Lestari, mengungkapkan bahwa kerusakan bangunan sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Pihak sekolah sebenarnya telah melaporkan kondisi itu kepada instansi terkait, namun hingga kini belum ada kepastian mengenai perbaikan.
“Kami khawatir sewaktu-waktu bangunan ini roboh saat anak-anak sedang belajar,” ujarnya saat di temui awak media pada Jumat, 6 Maret 2026.
Kekhawatiran para guru semakin meningkat ketika musim hujan datang. Kondisi atap dan plafon yang banyak rusak serta kayu penyangga yang mulai lapuk membuat mereka waswas akan keselamatan para siswa.
“Beberapa plafon sudah jatuh dan kayunya terlihat lapuk. Tapi kami tetap mengajar karena ini satu-satunya tempat anak-anak bisa belajar,” tambahnya.
Sekolah filial yang berada di Dusun Sumber Biru itu menjadi satu-satunya tempat belajar bagi anak-anak di wilayah tersebut. Gedung sekolah yang dibangun pada tahun 2005 itu hingga kini belum pernah mendapatkan renovasi.
“Usia gedungnya sudah lebih dari dua dekade, jadi memang wajar jika banyak bagian yang rusak. Karena itu perlu segera diperbaiki,” jelasnya.
Saat ini terdapat 14 siswa yang menempuh pendidikan di sekolah tersebut dari kelas 1 hingga kelas 6. Keberadaan sekolah ini sangat penting karena berfungsi sebagai kelas jauh untuk memudahkan akses pendidikan bagi anak-anak di Dusun Sumber Biru.
Jika harus bersekolah di SD induk, para siswa harus menempuh jarak sekitar dua hingga tiga kilometer. Sementara menuju SD Mandiro 1, jaraknya bahkan lebih jauh.
Salah satu wali murid, Mosleh, mengaku khawatir melihat kondisi bangunan sekolah yang semakin rapuh. Namun sebagai orang tua, ia tidak memiliki pilihan lain selain tetap menyekolahkan anaknya di sana.
“Kami tentu cemas melihat kondisi kelas seperti itu. Tapi anak-anak tetap harus sekolah. Kami hanya berharap pemerintah segera memperbaikinya agar mereka bisa belajar dengan aman,” katanya.
Warga setempat berharap pemerintah daerah dan dinas terkait segera turun tangan memperbaiki bangunan sekolah tersebut. Mereka khawatir jika dibiarkan berlarut-larut, keselamatan siswa bisa terancam dan hak pendidikan anak-anak di Dusun Sumber Biru menjadi terabaikan.(*)
