KETIK, BATU – Pemerintah Kota Batu mulai menyiapkan gagasan baru pengembangan wisata malam keluarga, menyusul masih terbatasnya destinasi yang mampu menahan wisatawan untuk tetap beraktivitas hingga malam hari di Kota Batu.
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, mengungkapkan bahwa berdasarkan data kunjungan wisata yang dimiliki Polres selama libur Natal dan Tahun Baru, aktivitas wisata di Kota Batu masih didominasi pada siang hari. Setelah itu, arus wisatawan justru bergerak keluar daerah, terutama menuju Kota Malang.
“Ini menjadi PR kami. Kami bekerja sama dengan Polres, terutama Kapolres yang selalu memiliki data terbaru terkait kunjungan wisata dan alur lalu lintas. Terlihat jelas bahwa wisatawan beraktivitas di Kota Batu pada siang hari, tetapi sore hingga malam mereka cenderung bergeser ke Malang untuk kuliner,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan belum terbangunnya konsep wisata malam keluarga yang kuat di Kota Batu. Padahal, potensi alam dan panorama yang dimiliki daerah ini dinilai tidak kalah dibandingkan daerah lain.
“Kalau ingin membangun wisata malam keluarga, tentu harus disiapkan tempat-tempat yang menarik. Tidak hanya kuliner, tetapi juga ruang dan suasana. Kota Batu ini banyak lokasi dengan pemandangan yang bagus,” katanya.
Heli mencontohkan kawasan Bukit Bintang yang sempat viral beberapa waktu lalu. Kawasan tersebut dinilai memiliki daya tarik dari sisi panorama, namun masih lemah dari aspek tata kelola.
“Bukit Bintang itu dikelola swasta dan masyarakat. Pemandangannya bagus, tetapi tata kelolanya masih kurang. Ini menjadi pembelajaran bagi kami,” ucapnya.
Saat ini, lanjut Heli, Pemkot Batu tengah menyusun sejumlah perencanaan baru, terutama penataan kawasan Alun-Alun Kota Batu. Selama ini, kawasan tersebut masih menjadi ikon utama wisata malam dan kuliner, meski kondisinya dinilai belum ideal.
“Merek wisata malam kita sementara ini masih alun-alun. Padahal, kondisinya sekarang kurang baik dari sisi tata kelola maupun penataan kawasan. Saat ini masih dalam tahap uji coba gerbang parkir, sehingga penataan kawasan ke depan akan menjadi fokus,” jelasnya.
Heli menegaskan Kota Batu membutuhkan gagasan baru untuk menghadirkan wisata malam yang ramah keluarga, termasuk keberadaan tempat makan dan ruang nongkrong yang beroperasi hingga 24 jam. Keterbatasan fasilitas tersebut kerap menjadi keluhan wisatawan.
“Di Kota Batu masih minim tempat makan dan nongkrong yang buka 24 jam. Ini yang sering dikeluhkan wisatawan. Padahal, kalau ada tempat kuliner yang bisa dinikmati sambil menikmati alam atau bahkan matahari terbit, tentu akan sangat menarik,” ungkapnya.
Salah satu kawasan yang mulai dipertimbangkan untuk dikembangkan sebagai pusat kuliner dan oleh-oleh adalah Pasar Among Tani. Keberadaan layanan transportasi Trans Jatim dinilai turut membuka peluang pengembangan kawasan tersebut.
“Pasar Among Tani menjadi salah satu opsi. Saya pernah ke sana dan bertemu rombongan ibu-ibu dari Malang. Mereka datang selain ingin mencoba Trans Jatim, juga ingin kuliner di Kota Batu. Ini potensi yang harus kita tangkap,” pungkas Heli.
Perbandingan tren wisata malam di Kota Batu dengan perkembangan destinasi wisata di Kota Malang bisa dilihat dari lonjakan kunjungan di kawasan Kayutangan Heritage. Data dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang mencatat selama libur Natal dan Tahun Baru 2025–2026, kunjungan wisatawan di Kayutangan Heritage mencapai antara 3.000 hingga 5.500 orang per hari, meningkat hampir 100 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
