KETIK, BATU – Upaya menghadirkan wisata berbasis edukasi dan pelestarian budaya terus dilakukan di Kota Batu. Salah satunya melalui kehadiran Museum Cilik Dusun Kuliner yang berada di kawasan Wisata Dusun Kuliner, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji.
Museum Pertanian pertama di Kota Batu ini menampilkan koleksi alat-alat pertanian tradisional yang pernah digunakan masyarakat pada masa lampau.
Salah satu inisiator Museum Cilik Dusun Kuliner, Rinto Agung Narimo, mengatakan museum tersebut lahir dari kegemarannya mengoleksi benda-benda lama, khususnya peralatan pertanian. Gagasan pendirian museum muncul sekitar lima bulan lalu dan mulai digarap secara bertahap sejak November 2025.
“Awalnya kami memiliki cukup banyak koleksi alat pertanian. Daripada hanya disimpan dan tidak memberi manfaat, kami berinisiatif menampilkannya agar bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda,” ujar Rinto, Senin, 5 Januari 2026.
Rinto Agung Narimo saat berada di salah satu sudut museum yang dikemas ala dapur di rumah zaman dulu. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)
Ia menjelaskan, hingga saat ini museum telah mengoleksi sekitar 100 alat pertanian tradisional. Koleksi tersebut didominasi peralatan bercocok tanam padi dan jagung, serta alat pengolahan hasil pertanian dan kuliner tradisional.
“Jumlahnya masih terus berkembang. Museum ini masih kecil, jadi tidak menutup kemungkinan ke depan koleksinya akan bertambah,” katanya.
Rinto menegaskan, seluruh koleksi yang dipamerkan merupakan benda asli bekas pakai, bukan replika. Ia sengaja tidak membersihkan atau memoles alat-alat tersebut agar keasliannya tetap terjaga.
“Alat-alat ini benar-benar bekas dan sebagian besar dibuat secara handmade. Kami ingin menunjukkan keotentikannya, bahwa alat-alat ini memang pernah digunakan pada masanya,” jelasnya.
Menurut Rinto, museum ini tidak menitikberatkan pada penentuan tahun secara detail untuk setiap koleksi, melainkan pada fungsi dan nilai sejarahnya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat agraris.
“Yang kami sampaikan adalah narasi bahwa alat ini pernah digunakan di masa lampau. Informasi detail akan terus kami gali seiring waktu, termasuk dari para ahli pertanian, budayawan, atau arkeolog yang mungkin berkunjung dan memberi masukan,” ungkapnya.
Salah satu koleksi paling unik di Museum Cilik Dusun Kuliner bernama "senggot", yakni alat tradisional untuk menimba air dari sumur dengan memanfaatkan bambu dan batang pohon besar sebagai sistem katrol sederhana.
“Alat ini diperkirakan sudah berusia lebih dari 100 tahun. Kami mendapatkannya dari pedagang barang antik di Tulungagung. Dulu, sebelum mengenal katrol modern, masyarakat menggunakan sistem seperti ini untuk mengambil air,” tutur Rinto.
Ia menambahkan, penamaan alat-alat pertanian juga beragam, tergantung daerah asalnya, meskipun fungsi dasarnya sama.
Museum menampilkan berbagai versi nama dan bentuk sesuai hasil koleksi yang berhasil dihimpun.
Secara tata ruang, museum berdiri di lahan berukuran sekitar 7×25 meter. Di area masuk, pengunjung akan disambut dengan tulisan doa para petani sebelum menanam, dilanjutkan narasi pengantar tentang museum dan makna alat-alat pertanian tradisional, seperti caping.
“Di dalam lorong, kami menampilkan alat-alat pengolahan tanah seperti lempak dan cangkul, hingga alat angkut hasil panen seperti cikar. Alat-alat ini dulunya sangat berjasa dalam menggerakkan perekonomian masyarakat sebelum hadirnya mesin,” jelasnya.
Selain pertanian, museum juga menampilkan peralatan menangkap ikan tradisional, seperti jaring dan perangkap ikan, yang mencerminkan mata pencaharian tambahan masyarakat di sekitar sungai dan danau.
“Jenis alatnya beragam, disesuaikan dengan ikan yang ditangkap, mulai dari lele, wader, belut, hingga udang,” kata Rinto.
Bangunan museum sendiri merupakan hasil alih fungsi dari gedung yang sebelumnya digunakan untuk budidaya jamur. Rinto menyebut, Museum Cilik Dusun Kuliner direncanakan mulai dibuka untuk umum secara terbatas pada pekan depan sebagai tahap uji coba.
“Kami buka dulu secara bertahap agar bisa menerima masukan. Ke depan, orientasi Dusun Kuliner tidak hanya kuliner, tetapi juga pendidikan, edukasi, dan seni budaya. Museum ini menjadi bagian dari upaya itu,” pungkasnya.(*)
