KETIK, BONDOWOSO – Suasana Gedung Taman Kridha Budaya di Kota Malang berubah menjadi panggung kebanggaan budaya saat Gubernur Jawa Timur menyerahkan Sertifikat Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) kepada Bupati Bondowoso.
Tiga warisan tersebut Topeng Kona, Tape Bondowoso, dan tradisi Selamatan Gugur Gunung. Penyerahan sertifikat ini menandai pengakuan resmi negara atas kekayaan tradisi yang tumbuh dan mengakar kuat di tengah masyarakat.
Momentum tersebut bukan sekadar seremoni administratif. Di hadapan kepala daerah, budayawan, seniman, dan tokoh masyarakat yang hadir, Gubernur Jawa Timur menegaskan bahwa status WBTBI merupakan amanah moral untuk menjaga keberlangsungan tradisi agar tidak tergerus zaman.
Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas ditetapkannya tiga warisan budaya tersebut. Menurutnya, Topeng Kona bukan hanya seni pertunjukan yang memikat secara visual, tetapi juga menyimpan pesan filosofis dan nilai spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sementara itu, Tape Bondowoso dinilai telah melampaui fungsi kuliner semata—ia menjadi identitas daerah sekaligus penggerak ekonomi rakyat berbasis kearifan lokal. Adapun Selamatan Gugur Gunung disebut sebagai cerminan nyata budaya gotong royong yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat Jawa Timur.
“Warisan budaya tak benda adalah roh dari peradaban kita. Ia membentuk karakter, memperkuat identitas, dan menjadi penuntun arah pembangunan,” tegas Gubernur dalam sambutannya pada Minggu, 22 Februari 2026.
Ia juga mengingatkan pentingnya sinergi antara pemerintah, pelaku seni, dan generasi muda agar pelestarian budaya tidak berhenti pada simbol, melainkan terus berkembang melalui inovasi kreatif yang tetap berakar pada nilai tradisi.
Selain itu, mendorong agar sektor kebudayaan ditempatkan sebagai bagian strategis dalam pembangunan daerah. Potensinya, kata dia, tidak hanya pada aspek pelestarian, tetapi juga dalam mendorong pariwisata, memperkuat ekonomi kreatif.Hingga memperluas diplomasi budaya di tingkat nasional dan internasional.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah kabupaten Bondowoso dan para pegiat budaya yang telah bekerja keras mengawal proses pengusulan hingga memperoleh pengakuan resmi.
Pada kesempatan yang sama, Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid, menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam proses penetapan Tape Bondowoso sebagai WBTBI. Ia menyebut pengakuan ini sebagai kehormatan sekaligus tanggung jawab besar bagi masyarakat Bondowoso.
" Tape Bondowoso bukan sekadar hasil fermentasi singkong, melainkan simbol identitas yang telah hidup turun-temurun dan menghidupi banyak pelaku UMKM" Ujar orang nomor satu di Bondowoso tersebut.
Produk tersebut Lanjutnya, telah lama menjadi oleh-oleh khas yang memperkenalkan Bondowoso ke berbagai penjuru daerah. Dengan pengakuan WBTbI, ia optimistis daya saing dan nilai ekonomi produk lokal akan semakin meningkat.
Bupati juga menekankan pentingnya menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini. Ia berharap dunia pendidikan dapat mengambil peran aktif dalam mengenalkan sejarah, makna, dan filosofi tradisi kepada generasi muda.
“Warisan budaya tidak cukup hanya dibanggakan, tetapi harus dirawat dan diteruskan. Ini adalah tanggung jawab kolektif dan budaya bukan sekadar masa lalu, melainkan denyut hidup yang terus bergerak." pungkasnya.
Dengan pengakuan resmi ini, Topeng Kona, Tape Bondowoso, dan Selamatan Gugur Gunung diharapkan semakin dikenal luas dan tetap lestari sebagai bagian penting dari identitas Jawa Timur dan Indonesia.(*)
