Perjalanan ke Desa Baru, salah satu desa yang berada di lingkar kawasan industri di Kecamatan Obi, bukanlah perjalanan wisata. Ia lebih mirip ziarah sunyi, ziarah pada kenyataan yang kerap luput dari laporan angka dan pidato pertumbuhan.
Kami datang berempat. Sesama wartawan. Membawa catatan, kamera, dan rasa ingin tahu yang sejak lama menggantung, bagaimana rupa keseharian warga desa yang hidup berdampingan dengan industri besar, di wilayah yang disebut-sebut sebagai salah satu pusat aktivitas tambang di Indonesia timur.
Dari kejauhan, Obi tampak sibuk. Lalu-lalang kendaraan proyek, kapal tongkang yang silih berganti, dan deru mesin yang tak pernah benar-benar tidur. Namun semakin ke dalam desa, kesibukan itu perlahan berubah menjadi kesunyian. Rumah-rumah berdiri apa adanya. Jalan desa belum sepenuhnya ramah bagi kendaraan. Di sudut-sudut tertentu, anak-anak bermain tanpa alas kaki, sementara orang dewasa menatap hari dengan wajah yang sudah terlalu sering berdamai dengan keterbatasan.
Padahal, desa ini berada di jantung aktivitas ekonomi bernilai triliunan.
Tak sulit menemukan cerita tentang ketimpangan. Ia hadir bukan sebagai teriakan, melainkan bisik panjang yang keluar dari obrolan santai di teras rumah, di warung kecil, atau di tepi sungai.
“Di sini ramai, tapi bukan kami yang merasakan ramainya,” ujar seorang warga pelan, di Minggu 25 Januari 2026.
Desa Baru adalah potret desa lingkar tambang yang kerap disebut dalam laporan, tetapi jarang benar-benar dilihat dari dekat. Secara geografis, ia dikelilingi beragam aktivitas perusahaan, jasa pendukung, hingga logistik. Namun secara sosial dan ekonomi, warga masih berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar.
Lapangan kerja memang ada, tetapi tak selalu cukup menyerap tenaga lokal. Aktivitas ekonomi meningkat, namun tak otomatis mengalir ke dapur warga. Harga kebutuhan harian justru cenderung naik, sementara pendapatan warga berjalan di tempat.
Ketimpangan itu terasa nyata, kekayaan alam digali siang malam, tetapi kesejahteraan seolah berhenti di pagar proyek.
Pemandangan paling menggugah kami temui di sebuah tikungan menuju sungai. Di sanalah, beberapa perempuan emak-emak bersama anak-anak mereka, memungut kerikil satu per satu. Tanpa alat berat. Tanpa perlindungan. Hanya tangan, karung, dan kesabaran.
Kerikil itu akan dibawa pulang. Bukan untuk dijual. Melainkan untuk membangun rumah ibadah.
Material diambil dari Sungai Tabuji, sungai yang mengalir kurang lebih 9 kilo meter dari pemukiman. Warga turun sendiri ke bantaran, menantang licin dan arus, demi mengumpulkan bahan bangunan seadanya. Tak ada kontraktor. Tak ada proyek besar. Hanya gotong royong yang bertahan karena tak ada pilihan lain.
Ironinya nyaris tak terucap, rumah ibadah harus dibangun dari keringat warga, sementara di sekeliling mereka berdiri perusahaan dengan berbagai jenis usaha dan modal besar.
Beberapa warga mengakui memang ada bantuan. Sesekali. Dalam bentuk material atau dukungan tertentu. Namun mereka juga mengakui, bantuan itu belum cukup menjawab kebutuhan yang lebih mendasar dan berkelanjutan.
“Kami bersyukur, tapi belum cukup,” kata seorang tokoh desa singkat.
Eksplorasi demi eksplorasi terus berjalan. Aktivitas ekonomi terus disebut sebagai tanda kemajuan. Namun di balik itu, ada kelelahan kolektif yang jarang tercatat.
Lelah karena menunggu perubahan yang tak kunjung terasa. Lelah karena mendengar janji tanpa kepastian. Lelah karena harus terus menyesuaikan diri dengan geliat industri yang tak sepenuhnya berpihak pada kehidupan desa.
Warga tak banyak menuntut. Mereka hanya ingin hidup yang lebih layak, akses ekonomi yang adil, pendidikan yang memadai, layanan dasar yang manusiawi, dan ruang ibadah yang berdiri tanpa harus mengorbankan tenaga perempuan dan anak-anak.
Desa Baru, seperti banyak desa lingkar tambang lainnya di Obi, hidup dalam paradoks. Kaya secara wilayah, miskin dalam pengalaman hidup. Dikelilingi aktivitas besar, namun tetap bertahan dengan cara-cara kecil.
Dan kami meninggalkan desa itu dengan langkah yang lebih berat dari saat datang. Bukan karena jalanan, melainkan karena kesadaran bahwa ada jarak yang terlalu lebar antara pertumbuhan dan kesejahteraan.
Harus kami sampaikan bahwa ini bukan tudingan. Bukan pula gugatan. Ia hanya potret. Tentang desa yang terus bertahan di tengah pusaran industri. Tentang warga yang memilih bergotong royong saat sistem belum sepenuhnya hadir. Tentang Obi, yang denyut ekonominya kencang, tetapi denyut kesejahteraan warganya masih tertatih.
Di lingkar tambang itu, harapan tetap hidup meski harus dipungut satu per satu, seperti kerikil di Sungai Tabuji.
