KETIK, SURABAYA – Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan sering menjadi tantangan bagi pengidap Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Perubahan jadwal makan, pola tidur, serta kebiasaan berbuka dapat memicu meningkatnya asam lambung jika tidak diatur dengan baik. Namun, dengan pemahaman yang tepat mengenai kondisi tubuh dan penyesuaian gaya hidup, pengidap GERD dapat menjalankan puasa secara aman.
Pada wawancara Sabtu, 23 Februari 2026, dr. Afifah Sakinah menjelaskan bahwa pengidap GERD pada dasarnya tetap aman berpuasa selama tidak mengalami gejala akut. Gejala yang perlu diwaspadai meliputi mual muntah hebat, nyeri ulu hati berat, serta sensasi panas di dada (heartburn). “Mungkin butuh penyesuaian pada hari awal puasa, dapat dibantu obat-obatan GERD jika khawatir kambuh,” tambahnya.
Namun, tidak semua kondisi GERD dianjurkan untuk tetap berpuasa. Apabila gejala yang disebutkan tadi timbul, termasuk heartburn hebat atau nyeri ulu hati yang tak kunjung mereda hingga 15 menit, maka pasien lebih baik tidak memaksakan diri. Dalam kondisi tersebut, puasa sebaiknya dibatalkan agar pasien dapat segera mengonsumsi obat dan mencegah kondisi memburuk.
Pola makan menjadi hal yang sangat perlu diperhatikan. Pengidap GERD disarankan memilih makanan rendah lemak, tidak asam, dan tidak pedas. Sayuran, buah yang tidak kecut, serta susu rendah lemak menjadi pilihan yang lebih aman. Prinsip utama yang perlu diterapkan adalah makan dalam porsi kecil, tetapi lebih sering.
“Saat berbuka bisa makan takjil dulu, lalu sholat maghrib sebentar dan makan nasi seperempat piring, tapi tidak boleh sampai terlalu kenyang. Setelah tarawih nanti bisa dilanjutkan makan lagi dengan porsi yang juga sedikit. Inti prinsipnya sedikit-sedikit tapi sering,” ucapnya.
Sebaliknya, beberapa makanan dan minuman sebaiknya dihindari karena dapat memperparah gejala. Makanan tinggi lemak seperti gorengan, buah asam, serta makanan pedas dapat memicu asam lambung. Minuman yang mengandung kafein, soda, dan cokelat juga termasuk pemicu yang harus dibatasi selama berpuasa.
Kebiasaan setelah makan juga memengaruhi kondisi GERD. Tidur atau langsung berbaring setelah sahur dapat memicu kambuhnya gejala. Hal ini disebabkan karena proses pencernaan belum selesai, sehingga posisi berbaring memudahkan asam lambung naik ke kerongkongan. Oleh sebab itu, sebaiknya memberi jeda sekitar dua sampai tiga jam sebelum berbaring atau tidur.
Dalam mengonsumsi obat GERD selama Ramadan, dokter asal Sampang tersebut menjelaskan bahwa pasien perlu menyesuaikan frekuensi minum obat. “Untuk obat yang diminum tiga kali sehari, bisa diminum saat buka, sahur, dan sekitar pukul 23.00 sebelum tidur. Obat dua kali sehari dapat diminum saat sahur dan berbuka. Kalau satu kali sehari bisa saat buka atau sahur, sesuai dengan aturan pemakaian obat masing-masing,” ujarnya.
Selain itu, mengelola stres selama berpuasa juga menjadi hal penting karena stres dapat meningkatkan produksi asam lambung. Dengan pola makan yang tepat, kebiasaan yang terkontrol, dan pengaturan obat yang sesuai, pengidap GERD tetap dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih aman dan nyaman. (*)
