Refleksi Awal Tahun PSIB UMM, Membedah Strategi Percepatan Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045

13 Januari 2026 17:52 13 Jan 2026 17:52

Thumbnail Refleksi Awal Tahun PSIB UMM, Membedah Strategi Percepatan Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045

Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kegiatan refleksi awal tahun. (Foto: Humas UMM)

KETIK, MALANG – Upaya mempercepat langkah menuju Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya bertumpu pada jargon pembangunan. Refleksi, evaluasi, dan perumusan strategi sejak awal tahun menjadi fondasi penting agar transformasi berjalan tepat sasaran.

Inilah yang disoroti dalam kegiatan refleksi awal tahun yang digelar Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Mengusung tema “Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”, kegiatan yang berlangsung di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar ini menghadirkan akademisi, praktisi, hingga kepala daerah untuk membedah tantangan sekaligus peluang Indonesia ke depan, terutama di sektor sumber daya manusia (SDM) dan tata kelola pemerintahan.

Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menegaskan bahwa peran akademisi tidak boleh berhenti pada diskursus teoritis. Kampus, kata dia, harus aktif menyumbangkan rekomendasi berbasis riset yang dapat diimplementasikan oleh pemerintah daerah maupun nasional.

“Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tetapi suatu visi yang memerlukan keterlibatan semua pihak, terutama dalam membangun SDM unggul,” ujarnya.

Menurut Gonda, refleksi yang digelar di awal tahun ini justru menjadi pembeda sekaligus strategi PSIB UMM untuk memotret persoalan lebih dini.

Biasanya, refleksi dilakukan di akhir tahun setelah program berjalan, namun PSIB memilih melakukan evaluasi sejak awal agar perbaikan bisa segera dilakukan.

“Dalam kesempatan ini PSIB mengadakan refleksi awal tahun agar kita dapat menawarkan inovasi-inovasi di awal, biasanya kegiatan refleksi semacam ini diadakan di akhir tahun. Akan tetapi PSIB UMM mengadakan refleksi di awal tahun sebagai aspek untuk melihat hal-hal yang diperbaiki untuk mewujudkan generasi emas tahun 2045 kelak,” katanya.

Perspektif pemerintah daerah turut menguatkan diskusi. Wali Kota Batu, Nurochman, S.H., M.H., yang hadir sebagai keynote speaker menekankan bahwa transformasi menuju Indonesia Emas 2045 harus dimulai dari daerah dengan tetap menjunjung nilai-nilai lokal yang selaras dengan visi nasional dan global.

“Kami memiliki beberapa program yang dikenal dengan SAE Ning Mbatu yaitu program yang melihat keunggulan yang dimiliki oleh Kota Batu, seperti pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, dan smart city untuk mendukung rencana Pembangunan jangka Panjang,” katanya.

Lebih lanjut, Nurochman memaparkan komitmen Pemerintah Kota Batu dalam menyiapkan generasi unggul melalui kebijakan konkret di bidang pendidikan. Salah satunya adalah program 1.000 sarjana yang ditujukan untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat.

“Dalam menjawab tantangan ke depan, Pemerintah Kota Batu juga fokus membangun SDM yang unggul, seperti penguatan akses dan kualitas pendidikan, lebih spesifik pemerintah Kota Batu membuat program 1.000 sarjana. Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Batu telah memberi beasiswa kepada 273 mahasiswa,” ujarnya.

Dari sisi akademisi dan praktisi, Luthfi J Kurniawan menyoroti pentingnya transformasi kepemimpinan dalam kerangka masyarakat madani. Ia menilai, keberhasilan Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh kemampuan negara dalam mengelola SDM dan memastikan keberlanjutan ekonomi.

“Untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 saat ini, Indonesia harus mampu menciptakan generasi yang unggul, pemerataan pembangunan, ekonomi berkelanjutan hingga tata kelola pemerintahan yang baik,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa bonus demografi tidak selalu menjadi keuntungan jika tidak dibarengi dengan persiapan yang matang, khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan.

“Jika pendidikan, kesehatan tidak diurus dengan baik, maka ini akan menjadi ancaman bagi pembangunan Indonesia emas 2045. Saat ini, pemerintah memiliki tantangan untuk meningkatkan produktivitas SDM, reformasi struktural dan membangun tata kelola pemerintahan yang baik, demi mencapai Indonesia emas 2045,” tuturnya.

Pandangan strategis juga disampaikan Muhammad Mirdasy S.IP yang menilai awal tahun sebagai momentum penting bagi bangsa untuk melakukan reposisi arah pembangunan di tengah dinamika global yang terus berubah.

“Awal tahun merupakan momentum bagi kita untuk melakukan refleksi dan reposisi strategis bangsa, di mana saat ini Indonesia sedang menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pendekatan Islam multidisipliner menjadi relevan untuk merespons tantangan zaman yang semakin kompleks, dengan Islam berkemajuan sebagai landasan etis dalam kehidupan sosial.

“Tantangan zaman saat ini cukup kompleks, maka hadirnya kajian Islam multidisipliner menjadi salah satu aspek untuk menjawab tantangan zaman, di mana Islam berkemajuan menjadi landasan etis dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Sementara itu, pakar sosiologi politik UMM, Abdus Salam, mengingatkan bahwa percepatan menuju Indonesia Emas 2045 tidak bisa dilepaskan dari persoalan kemiskinan struktural yang masih membelit masyarakat.

“Ada beberapa aspek kemiskinan struktural yang bisa kita temui, seperti kemiskinan agrarian, hal ini mencakup petani yang sudah tidak lagi memiliki lahan atau lahan kecil yang hasilnya hanya cukup untuk bertahan hidup,” katanya.

Ia menambahkan, kemiskinan struktural juga menjangkiti sektor pekerjaan dan wilayah tertentu akibat struktur industri yang marginal serta minimnya akses di daerah terpencil.

“Kemiskinan struktural juga terjadi pada aspek pekerja, seperti buruh yang tidak dibekali pelatihan atau pekerjaan yang layak karena struktural industri yang marginal. Selain itu, Indonesia juga dihadapkan dengan kemiskinan urban akibat penggusuran pemukiman kumuh hingga ketergantungan sektor informal dan struktur industri yang marginal. Kemiskinan regional juga terjadi karena isolasi terhadap daerah terpencil tanpa adanya akses yang memadai,” ucapnya.

Moderator diskusi, Diki Wahyudi, S.Sos., M.IP., menilai seluruh paparan narasumber bermuara pada dua isu besar, yakni pembangunan SDM dan tata kelola pemerintahan yang baik. Menurutnya, percepatan transformasi tidak mungkin dilakukan secara parsial.

“Kolaborasi adalah kunci. Tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendiri,” tuturnya.

Melalui refleksi awal tahun ini, PSIB UMM berharap lahir rekomendasi konkret dan langkah tindak lanjut yang mampu menjembatani gagasan akademik dengan kebijakan publik, demi mewujudkan Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing global pada 2045. (*)

Tombol Google News

Tags:

Pusat Studi Islam Berkemajuan PSIB UMM Refleksi Awal Tahun Indonesia Emas 2045 Kepala PSIB UMM Prof. Gonda Yumitro SDM unggul