KETIK, MALANG – Program Magister Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kuliah tamu bertajuk “Diskursus Pembangunan di Dunia Ketiga”, Sabtu, 10 Januari 2025. Acara yang mengawali tahun akademik ini dihadiri dosen, mahasiswa, serta guru-guru sosiologi dari MGMP Kabupaten Malang dan Kota Batu.
Dalam acara ini, dibedah kompleksitas pembangunan dari tiga sudut pandang: akademik, praktik kebijakan lokal, dan perspektif internasional.
Sebagai pemantik diskusi, Ketua Prodi Magister Sosiologi UMM, Rachmad K. Dwi Susilo Ph.D, menekankan bahwa pembangunan tersebut, sejatinya, sekadar diskursus atau wacana karena bersifat dinamis dan setiap daerah konteksnya berbeda.
Dalam paparannya, Rachmad mengkritik kecenderungan pembangunan yang hanya berorientasi fisik. "Siapa yang mengais keuntungan dari pembangunan itu? Apakah pemerintah, investor, atau masyarakat?” tanyanya.
Pertanyaan ini, menurut Rachmad, menjadi dasar untuk menguji pelbagai teori pembangunan, dari modernisasi, ketergantungan, hingga pemberdayaan berkelanjutan.
Sementara itu, dalam acara ini, Kepala Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kota Malang, Yuyun Nanik E, memaparkan inovasi program RT Berkelas. Dia menyebut, program ini merupakan program bottom-up murni.
"Setiap RT di Kota Malang mendapatkan alokasi Rp50 juta per tahun untuk merencanakan dan melaksanakan program sesuai kebutuhan warganya,” jelasnya.
Namun, Yuyun pun mengakui sejumlah tantangan yang harus dihadapi dalam program ini. Salah satunya, dia menambahkan, adalah banyaknya usulan program bersifat fisik, seperti pengadaan tenda, kursi juga meja.
"Kita perlu mengarahkan agar dana ini benar-benar untuk pemberdayaan yang menyentuh masalah riil, seperti pengentasan banjir atau peningkatan ekonomi," tuturnya.
Dalam kuliah tamu ini, juga dibahas perspektif global dari pembangunan di dunia ketiga. Mahasiswa Magister Sosiologi UMM asal Tanzania, Jacqueline Makolo, membahas soal pemberdayaan perempuan dalam pembangunan di negaranya.
"Di Tanzania, representasi perempuan dalam politik telah meningkat, dengan presiden terpilihnya seorang perempuan menjadi presiden saat ini. Namun, ini sering kali hanya menjadi tokenisme. Perempuan hadir secara kuantitas, tetapi kekuatan substantif dan pengambilan keputusan masih didominasi oleh laki-laki,” jelasnya.
Kuliah tamu ini menegaskan kembali komitmen Magister Sosiologi UMM untuk menghadirkan ruang dialektika yang kritis dan kontekstual. “Kami mengajak mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga menganalisis kebijakan dari dimensi sosiologis, kultural, dan politik, serta melihat langsung kompleksitasnya di lapangan,” tutup Rachmad. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pemicu bagi penelitian dan kontribusi nyata ilmu sosial dalam pembangunan yang lebih partisipatif dan berkeadilan.(*)
