KETIK, JAKARTA – Pembalap Formula 1 tujuh kali juara dunia, Lewis Hamilton, menyatakan tidak akan pensiun dari dunia balap sebelum ajang Formula 1 kembali digelar di benua Afrika.
Hamilton mengaku ingin merasakan langsung balapan di Afrika setidaknya sekali sebelum benar-benar meninggalkan olahraga yang telah membesarkan namanya tersebut.
Dalam pernyataannya, Hamilton menegaskan bahwa ia terus menanyakan perkembangan rencana penyelenggaraan grand prix di Afrika kepada pihak Formula 1.
Ia berharap seri balapan di benua tersebut dapat segera terwujud.
Hamilton mengatakan bahwa waktunya sebagai pembalap semakin terbatas, namun ia tetap berharap dapat membalap di Afrika sebelum memutuskan pensiun.
“Saya tidak ingin meninggalkan olahraga ini tanpa adanya grand prix di sana, tanpa sempat membalap di sana. Saya terus menanyakan kapan itu akan terjadi. Mereka menetapkan beberapa target waktu, sementara saya merasa waktu saya semakin terbatas,” ujar Hamilton, Jumat, 6 Maret 2026.
Formula 1 terakhir kali menggelar balapan di Afrika pada Grand Prix Afrika Selatan tahun 1993 di Sirkuit Kyalami.
Setelah itu, sirkuit tersebut tidak lagi masuk dalam kalender balap karena pemilik baru memilih mengelola fasilitas tersebut dengan orientasi keuntungan.
Balapan pada 1993 sekaligus menutup 26 tahun kehadiran Formula 1 secara tidak rutin di Johannesburg dan Afrika Selatan.
Hingga kini, hanya Afrika Selatan dan Maroko yang pernah menjadi tuan rumah grand prix di benua Afrika.
Maroko terakhir kali menggelar balapan Formula 1 pada tahun 1958.
Situasi ini kerap menjadi sorotan karena di tengah kalender Formula 1 yang terus berkembang ke berbagai negara, Afrika menjadi satu-satunya benua yang tidak memiliki seri balapan.
Hamilton juga menyatakan bahwa ia bersedia memperpanjang kariernya di Formula 1 demi mewujudkan impian tersebut. Keinginan itu juga didorong oleh latar belakang keluarganya yang memiliki garis keturunan Afrika.
“Saya memiliki garis keturunan dari beberapa tempat di sana seperti Togo dan Benin. Saya mengunjungi Benin tahun lalu, juga Senegal dan Nigeria. Itu sesuatu yang sangat saya banggakan. Bagi saya, kawasan itu adalah bagian dunia yang paling indah,” kata Hamilton.
Selama beberapa tahun terakhir, Hamilton mengaku terus mendorong pihak Formula 1 agar kembali menghadirkan balapan di Afrika.
Namun hingga kini, kendala utama masih berkaitan dengan kesiapan finansial negara tuan rumah serta ketersediaan sirkuit yang memenuhi standar FIA Grade 1.
Afrika Selatan disebut sebagai kandidat paling kuat untuk menjadi lokasi kembalinya Formula 1 ke benua tersebut.
Pembicaraan mengenai kemungkinan penyelenggaraan grand prix di negara itu sempat menguat menjelang musim 2024.
Namun rencana tersebut terhambat setelah muncul kabar bahwa Afrika Selatan memasok senjata kepada Rusia setelah invasi ke Ukraina.
Spekulasi mengenai kembalinya Formula 1 ke Afrika kembali mencuat pada pertengahan 2025 setelah rencana peningkatan standar Sirkuit Kyalami menjadi FIA Grade 1 dalam tiga tahun disetujui.
Meski demikian, proses tersebut masih berada pada tahap awal setelah melalui proses penawaran yang cukup rumit dengan rencana penyelenggaraan Grand Prix Cape Town.
Selain Afrika Selatan, Rwanda juga sempat disebut sebagai kandidat tuan rumah.
Pejabat pemerintah negara tersebut bahkan bertemu dengan pimpinan Formula 1 pada tahun 2024 dan mengumumkan rencana untuk mengajukan diri sebagai penyelenggara.
Namun pembicaraan tersebut kembali mereda. Pada awal 2025, Republik Demokratik Kongo bahkan memperingatkan Formula 1 agar tidak mempertimbangkan Rwanda sebagai tuan rumah karena konflik yang masih berlangsung di kawasan tersebut.
Isu mengenai kemungkinan balapan di Afrika juga sempat dibahas dalam diskusi media bersama CEO Formula 1, Stefano Domenicali. Ia menyatakan peluang penambahan negara baru dalam kalender balap memang ada, namun tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Menurut Domenicali, kemungkinan tersebut baru dapat terwujud setelah 2029, ketika sejumlah kontrak penyelenggaraan grand prix saat ini berakhir.
Ia juga menegaskan bahwa Formula 1 tidak berencana menambah jumlah seri balapan sehingga setiap keputusan mengenai lokasi baru harus dipertimbangkan secara matang.
Meski belum memiliki seri balapan Formula 1, Afrika tetap memiliki peran dalam dunia motorsport.
Salah satunya melalui Safari Rally Kenya yang menjadi bagian dari Kejuaraan Reli Dunia (WRC), serta balapan Cape Town E-Prix 2023 dalam ajang Formula E.(*)
