KETIK, SURABAYA – Ramadan menjadi momen istimewa dan paling ditunggu bagi umat Muslim seluruh dunia, termasuk bagi Momodou Benteh Jallow, mahasiswa asal Gambia yang saat ini menempuh program Sarjana Manajemen di UIN Sunan Ampel Surabaya, Indonesia.
Benteh, sapaan akrabnya, menganggap bulan Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperkuat kekeluargaan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama.
Di Gambia, Ramadan dikenal sebagai bulan yang sangat spiritual dan berbasis komunitas. Masjid hampir tak pernah sepi, apalagi di malam hari.
Aktivitas ibadah, puasa, serta bersedekah menjadi bagian penting dalam keseharian masyarakat. Keluarga pun lebih sering menghabiskan waktu bersama, entah itu saat sahur maupun berbuka puasa.
Benteh mengatakan, salah satu tradisi yang paling menonjol adalah kebiasaan berbuka bersama keluarga dan berbagi makanan dengan tetangga. Selain itu, Masyarakat rutin pergi ke masjid setiap malam untuk melaksanakan salat tarawih.
Ia juga menambahkan rasa saling menghormati dan persatuan sangat dirasakan selama bulan Ramadan di negaranya.
"Respect and unity are very strong during Ramadan in my country Gambia (Rasa saling menghormati dan persatuan sangat kuat selama bulan Ramadan di negara saya)," ujar salah satu penerima beasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya ini.
Dari sisi kuliner, menu sahur di Gambia juga cukup beragam, mulai dari roti, bubur, nasi, kacang-kacangan, hingga daging sapi. Lalu, seperti sunah nabi, saat berbuka puasa, Benteh dan keluarganya memulai dengan kurma dan air kemudian dilanjutkan dengan hidangan utama seperti, nasi, sup, ikan, daging, serta berbagai makanan khas tradisional.
“We also drink juices like baobab juice or wonjo (kami juga minum jus, seperti jus baobab atau jus wonjo),” tambahnya.
Menurut Benteh, keunikan Ramadan di Gambia terletak pada kuatnya rasa kebersamaan. Budaya berbagi tetap dilakukan, bahkan dari hal kecil yang mereka miliki. Masjid selalu dipenuhi jamaah, dan masyarakat berlomba-lomba menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih peduli terhadap sesama di bulan suci ini.
Meski berasal dari latar budaya yang berbeda, ia mengaku tidak melihat banyak perbedaan antara Ramadan di negaranya dengan Indonesia. Mahasiswa yang juga pernah menerima beasiswa dari pemerintah Rusia ini menilai masyarakat Indonesia religius dan aktif beribadah. Sebagai Muslim, hal tersebut membuatnya merasa nyaman menjalankan ibadah puasa di Indonesia.
Meski begitu, ia menyoroti perbedaan yang cukup terasa, yakni durasi salat tarawih yang jauh lebih cepat di Indonesia. Sedangkan di Gambia cenderung lebih panjang, bahkan bisa sampai 3 jam lamanya.
“Taraweeh prayers in Gambia are longer, sometimes up to three hours and fasting usually ends around 7:30 PM (tarawih di Gambia lebih lama, bahkan bisa sampai 3 jam dan waktu berbuka biasanya sekitar pukul 19.30),” katanya.
Tinggal jauh dari kampung halaman membuat Benteh merindukan momen berbuka puasa bersama keluarga serta makanan tradisional khas negaranya. Ia juga mengaku merindukan salat tarawih yang panjang di Gambia.
“I also miss the long taraweeh prayers (aku juga merindukan salat tarawihnya yang lama),” ujarnya sambil bercanda.
Bagi Benteh, Ramadan di Gambia memiliki makna mendalam, yaitu persatuan, kedermawanan, dan keimanan. Ramadan menjadi momen yang menyatukan masyarakat sekaligus menjadi pengingat untuk lebih peduli satu sama lain.
Ia merasa bangga dengan cara negaranya merayakan Ramadan melalui semangat kebersamaan yang kuat. (*)
