KETIK, HALMAHERA SELATAN – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Halmahera Selatan, Samsudin Chalil, menegaskan pentingnya menjaga marwah dan integritas profesi jurnalistik di tengah tantangan era informasi yang semakin kompleks.
Hal itu disampaikan Samsudin usai dilantik oleh Ketua PWI Provinsi Maluku Utara Asri Fabanyo dalam acara pelantikan pengurus PWI Kabupaten Halmahera Selatan yang berlangsung di Aula Kantor Bupati pada Jumat, 6 Maret 2026.
Dalam sambutannya, Samsudin mengingatkan bahwa profesi wartawan memiliki tanggung jawab moral dan sosial yang besar dalam menjaga kualitas informasi di ruang publik. Ia menekankan bahwa pers harus tetap berdiri di atas prinsip profesionalisme, objektivitas, serta etika jurnalistik.
“Saat ini kita harus lebih menjaga citra pers sejati dengan menjalankan profesi secara profesional dan berintegritas. Pers abal-abal hanya memberikan informasi bias dan sensasional yang merugikan publik,” ujar Samsudin.
Menurutnya, dalam perspektif komunikasi publik dan epistemologi informasi, keberadaan pers memiliki peran strategis sebagai medium penyampai fakta yang akurat sekaligus penyeimbang dinamika sosial di masyarakat. Karena itu, kualitas wartawan harus terus diperkuat melalui peningkatan kompetensi dan pemahaman etika profesi.
Selain menyoroti pentingnya profesionalisme, Samsudin juga mengungkapkan hasil diskusi internal yang dilakukan jajaran PWI menjelang pelantikan. Dalam diskusi tersebut, muncul gagasan untuk mengangkat kembali tokoh sejarah lokal yang memiliki kontribusi dalam perjalanan pers dan perjuangan kemerdekaan.
Salah satu tokoh yang disebutnya adalah Boki Fatima, yang juga dikenal sebagai Prinses Van Kasiruta.
“Boki Fatima adalah salah satu tokoh yang ikut berjuang dalam sejarah bangsa dan memiliki kaitan dengan perjalanan dunia jurnalistik. Oleh karena itu, kami ingin menyampaikan dua usulan kepada Pemerintah Daerah Halmahera Selatan,” kata Samsudin.
Ia menjelaskan, dunia jurnalistik di Indonesia memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan para tokoh bangsa. Dalam konteks historis tersebut, nama Boki Fatima dinilai layak mendapatkan pengakuan yang lebih luas.
“Keberadaan jurnalis di Halmahera Selatan maupun di Indonesia harus mengetahui bahwa kita memiliki sejarah panjang di dunia jurnalistik. Nama Boki Fatima atau Prinses Van Kasiruta merupakan tokoh yang layak mendapatkan pengakuan negara,” tuturnya.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah tersebut, PWI Halmahera Selatan mengusulkan agar pemerintah daerah dapat menghadirkan sebuah gedung yang menjadi pusat aktivitas wartawan.
Gedung tersebut diharapkan menjadi ruang kolaboratif yang menghimpun seluruh jurnalis, baik di tingkat daerah maupun nasional.
“Kami mengusulkan agar ke depan ada gedung yang menghimpun seluruh wartawan. Jika itu dapat diakomodasi, maka PWI Halsel bertekad mengabadikan nama Boki Fatimah sebagai nama gedung tersebut,” ungkapnya.
Tak hanya itu, PWI Halmahera Selatan juga berencana mendorong sejumlah agenda strategis yang bertujuan memperkuat kualitas dan solidaritas wartawan. Agenda tersebut meliputi peningkatan kompetensi wartawan serta rencana penyelenggaraan Pekan Olahraga Wartawan Nasional yang akan dibahas lebih lanjut dalam rapat kerja organisasi.
Samsudin turut menyampaikan komitmen PWI Halmahera Selatan untuk mendukung arah pembangunan daerah, khususnya program agromaritim yang menjadi visi utama Bupati dan Wakil Bupati Halmahera Selatan.
“Kami berharap dapat bersama-sama mendukung program agromaritim yang digagas oleh Bupati dan Wakil Bupati agar berjalan dengan baik dan berkelanjutan untuk kemajuan pembangunan di Halmahera Selatan,” pungkasnya.
Acara pelantikan tersebut turut dihadiri oleh Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, pihak swasta, perusahaan, serta berbagai organisasi wartawan dan pemangku kepentingan di Halmahera Selatan.
