Ramadan Dulu vs Sekarang, Kenapa Rasanya Tidak Lagi Sama?

7 Maret 2026 03:30 7 Mar 2026 03:30

Thumbnail Ramadan Dulu vs Sekarang, Kenapa Rasanya Tidak Lagi Sama?

Ilustrasi Ramadan dulu vs sekarang. (Design: Ilma Nurlaila/Ketik.com)

KETIK, JAKARTA – Banyak orang sering mengatakan bahwa Ramadan dulu terasa lebih hangat dan penuh kebersamaan.

Suasana kampung yang ramai menjelang berbuka, anak-anak yang bermain sambil menunggu azan magrib, hingga masjid yang dipenuhi jamaah saat tarawih menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Namun seiring berjalannya waktu, tidak sedikit yang merasa bahwa Ramadan sekarang terasa berbeda dibandingkan dulu.

Perubahan ini tidak lepas dari perkembangan zaman. Gaya hidup masyarakat modern, kesibukan pekerjaan, hingga hadirnya teknologi digital membuat pola interaksi sosial berubah.

Jika dulu ngabuburit identik dengan berkumpul di lingkungan sekitar, kini banyak orang menghabiskan waktu menunggu berbuka dengan menonton konten di ponsel atau berselancar di media sosial.

Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa perubahan suasana tersebut tidak seharusnya mengurangi makna Ramadan. Cendekiawan Muslim Indonesia Quraish Shihab menjelaskan bahwa Ramadan merupakan momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas spiritual.

Dalam penjelasannya di laman resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Quraish Shihab mengatakan bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri serta memperkuat ketakwaan kepada Allah. Ia menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang lebih bertakwa dan mampu menjaga perilaku dari hal-hal yang tidak baik.

Selain itu, dalam berbagai kajian tafsirnya, Quraish Shihab juga menegaskan bahwa Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri. Ia menyebut bahwa bulan suci ini adalah kesempatan bagi umat Islam untuk memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Dari perspektif keagamaan, makna Ramadan sebenarnya tidak pernah berubah. Yang berubah adalah pengalaman manusia dalam menjalaninya. Ketika masih kecil, Ramadan terasa sangat menyenangkan karena dipenuhi kebersamaan dengan keluarga dan teman-teman. Sementara ketika dewasa, tanggung jawab dan kesibukan membuat seseorang tidak lagi merasakan suasana yang sama seperti dulu.

Namun bukan berarti kehangatan Ramadan tidak bisa dihadirkan kembali. Tradisi sederhana seperti berbuka puasa bersama keluarga, salat berjamaah di masjid, atau berbagi makanan kepada tetangga dapat menjadi cara untuk menghidupkan kembali semangat Ramadan yang penuh kebersamaan.

Pada akhirnya, Ramadan tidak pernah berubah. Bulan suci ini tetap menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki diri. Jika maknanya dipahami dengan baik, Ramadan akan selalu terasa istimewa, baik dulu maupun sekarang. (*)

Tombol Google News

Tags:

Ramadan now puasa modern