Mengenal KH Masjkur, Pahlawan Nasional NU asal Malang dan Sang Panglima Laskar Hizbullah

3 Februari 2026 13:18 3 Feb 2026 13:18

Thumbnail Mengenal KH Masjkur, Pahlawan Nasional NU asal Malang dan Sang Panglima Laskar Hizbullah

KH Masjkur. (Foto: Wikipedia)

KETIK, MALANG – KH Masjkur merupakan sosok Pejuang Kemerdekaan sekaligus Pahlawan Nasional yang berasal dari Kota Malang. Ia lahir pada 30 Desember 1902 di Singosari, Malang, dari pasangan KH Maksum dan Ny Maemunah.

Sejak kecil, KH Masjkur tumbuh dalam lingkungan keluarga religius yang membentuk kiprahnya di dunia Islam hingga memberi pengaruh besar bagi bangsa Indonesia.

Hal ini terlihat dari kiprahnya saat menjabat Ketua Cabang NU Malang pada 1926-1930, kemudian menjadi anggota PBNU pada 1930-1945.

Lima tahun kemudian, Masjkur dilantik sebagai Ketua Umum PBNU periode 1950-1956. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Agama sebanyak lima kali pada era Kabinet Hatta II.

Perjalanan Pendidikan KH. Masjkur

Pada usia 9 tahun, Masjkur menunaikan ibadah haji bersama kedua orang tuanya. Sepulang dari Tanah Suci, ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Bungkuk yang diasuh KH Thahir, kemudian menimba ilmu di Pesantren Sono, Buduran, Sidoarjo, dengan mendalami Ilmu Nahwu dan Sharaf.

Tak berhenti di situ, Masjkur menimba ilmu di Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, untuk mendalami Ilmu Fikih. Ia kemudian melanjutkan pendidikan dengan berguru kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari di Pesantren Tebuireng untuk mempelajari Ilmu Tafsir dan Hadis.

Masjkur juga sempat belajar di Pesantren KH Khalil Bangkalan, Madura, bersama Syaichona Cholil untuk mendalami ilmu Qiraat Al-Qur'an, sebelum akhirnya menempuh pendidikan terlama selama tujuh tahun di Madrasah Mamba'ul Ulul Jamrasen, Solo.

Setelah perjalanan panjang mengenyam pendidikan, Masjkur mendirikan Madrasah yang bernama Misbahul Wathan atau Pelita Tanah Air.

KH Masjkur Dalam Perjuangannya Membela Kemerdekaan

Pada masa penjajahan Jepang, Masjkur kerap terlibat dalam misi bela negara melalui PETA (Pembela Tanah Air). Ia juga aktif di laskar Hizbullah, satuan kesukarelaan Islam di bawah Masyumi, serta mendapat pelatihan kemiliteran dan pelatihan khusus ulama dari Jepang.

Tak lama berselang, Masjkur menjadi anggota Syuu Sangi-Kai yang setara dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan bertugas memberikan nasihat. Dalam berbagai kesempatan, ia juga kerap menyuarakan pendapat untuk membela nasib rakyat.

Pada akhir masa pendudukan Jepang, Masjkur tercatat sebagai anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia) yang kemudian bertransformasi menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Pada 19 September 1945 terjadi peristiwa perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya. Pada masa itu, Masjkur bersama sejumlah pasukan laskar Hizbullah turut bertempur melawan pasukan Inggris pascatewasnya Mayor Jenderal Mallaby.

Dalam masa revolusi tersebut, Masjkur juga menjadi anggota Dewan Pertahanan Negara yang bertugas menyusun peraturan setingkat undang-undang serta menetapkan berbagai tindakan dalam kondisi keadaan bahaya. (*)

Tombol Google News

Tags:

kh masjkur pahlawan nu masykur tokoh NU