KETIK, TULUNGAGUNG – Di suasana udara pagi yang segar, suasana di Balai desa Bukur tampak berbeda dari biasanya. Perwakilan dari seluruh desa di Kecamatan Sumbergempol berkumpul bukan sekadar untuk seremoni, melainkan untuk menentukan arah baru ekonomi kerakyatan dalam Musyawarah Antar Desa (MAD) Tahunan Bumdesma.
Hadir pada acara musyawarah antar Desa Tahunan kali ini, Dari Dinas PMD Kabupaten Tulungagung, Camat Sumbergempol, Kepala desa, BPD, perwakilan Pokmas SPP/UEP se Kecamatan Sumbergempol, Kasi PMD Sumbergempol, Pendamping Desa, Ketua Asosiasi Bumdesma LKD Tulungagung, Direksi, Dewan pengawas Bumdesma, segenap karyawan dan undangan lainya.
Dalam mengawali sambutan, Penggerak Swadaya Masyarakat (PSM) Eni Wahnyuningsih, mewakili Kepala DPMD kabupaten Tulungagung memastikan bahwa setiap rupiah penyertaan modal dari desa dikelola dengan prinsip efisiensi dan akuntabilitas yang tinggi.
"Mari kita jadikan Bumdesma Sumbergempol sebagai percontohan di tingkat kabupaten, bahkan nasional." kata Eni.
Senada dengan Eni dari DPMD, Camat Sumbergempol Heru Junianto, S.STP., MM., dalam sambutannya menyampaikan, Bumdesma Sumbergempol adalah kapal besar kita bersama. Jika ia melaju kencang, maka seluruh warga di tiap desa harus ikut merasakan ombak kesejahteraannya.
"Saya berpesan, jadikan musyawarah ini sebagai ruang evaluasi yang jujur. Jangan hanya bangga dengan angka-angka di atas kertas. Mari kita pastikan tahun depan Bumdesma kita lebih inovatif dan tetap patuh pada regulasi yang ada.
"Dengan mengucap Bismillah, Musyawarah Antar Desa Tahunan ini resmi saya buka." ucap Heru pada Sabtu 7 Pebruari 2026.
Sambutan Penasihat Bumdesma
Fokus: Profesionalisme, akuntabilitas, dan pertumbuhan usaha. "Tugas kami adalah menjadi mata dan telinga Bapak/Ibu (Kepala Desa selaku pemilik modal) untuk memastikan direksi menjalankan roda usaha dengan jalur yang benar," ucap Juni.
Ia melanjutkan, tahun yang lalu memberikan banyak pelajaran. "Kami telah melihat bagaimana manajemen berjuang menghadapi tantangan pasar. Secara umum, performa kita yang masih stagnan dan aman," tambahnya.
Acara ini bukan sekadar rutinitas laporan pertanggungjawaban. Ini sebagai pembuktian bahwa kolaborasi antar desa mampu melahirkan kekuatan ekonomi yang kompetitif di tengah gempuran pasar modern.
"Profesionalisme tidak boleh berhenti di sini. Kita harus mulai melirik digitalisasi dan penguatan jejaring pasar yang lebih luas," ucapnya.
"MAD hari ini adalah saatnya kita menaruh kepercayaan sekaligus memberikan kritik yang membangun," tambahnya.
Dalam penyampaian laporannya, Direktur Bumdesma Heru Siswanto, S.T, memaparkan capaian pada tahun 2025 kasih dalam taraf stagnan. Fokus utama bukan hanya pada angka laba, tetapi pada sebaran manfaat bagi masyarakat di tiap sudut kecamatan.
"Bumdesma bukan hanya tentang mengumpulkan modal, tapi tentang bagaimana modal itu kembali ke warga dalam bentuk peluang usaha dan layanan yang lebih baik," ujar Heru, dalam sambutannya.
Menjaga "Nyawa" Musyawarah
Diskusi berlangsung hangat saat memasuki sesi pandangan umum.Esensi Sejati dari MAD Sebuah ruang demokrasi ekonomi di mana suara dari desa terkecil sekalipun memiliki bobot yang sama dalam menentukan kebijakan strategis di wilayah kecamatan.
"Dalam kegiatan Usaha Dana Bergulir Masyarakat (DBM) yang selama ini bisa menyumbang 90 persen total pendapatan BUM Desa Bersama Sumbergempol," tuturnya.
"Bumdesma Sumbergempol selama 2025 pendapat dari usaha layanan keuangan DBM pendapat Brutto sejumlah Rp. 369.880.000 atau 90 persen dan dari non DBM membukukan pendapat deviden sebesar Rp.39.014.868 atau 10 persen," tambahnya.
"Dengan semangat kebersamaan ini, Bumdesma Kecamatan Sumbergempol.LKD optimistis menatap tahun 2026 sebagai tahun akselerasi. Bukan lagi tentang bertahan, tapi tentang berlari menuju kemandirian ekonomi," tutup pewarta. (*)
