KETIK, MALANG – Banyak pahlawan lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU). Salah satu pahlawan besar tersebut adalah Kiai Muhammad Yahya Gading dari Kota Malang.
Kiai Yahya Gading bukan hanya sosok pemimpin agama. Ia juga merupakan salah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
Putra pasangan Kiai Qaribun dan Nyai Sarmi ini lahir pada tahun 1900 M di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Meskipun lahir di Malang, beliau memiliki darah keturunan Jawa Tengah dari orangtuanya. Kiai Yahya merupakan anak ke-empat dari tujuh bersaudara.
Sejak kecil, Kiai Yahya sudah bersentuhan dengan ilmu agama melalui pendidikan keluarga dan tradisi santri yang kental. Selain itu, ia juga mengikuti pendidikan dasar keagamaan yang diajarkan oleh pamannya sendiri, yaitu Kiai Abdullah, yang juga merupakan salah satu mursyid Thoriqoh Kholidiyah.
Di pesantren pamannya inilah, Kiai Yahya memperdalam ilmu pendidikan agama seperti mempelajari dasar aqidah, ilmu akhlak, bimbingan ibadah, dan etika agama. Dasar agama yang diperkuat masa kecil menjadikan beliau kuat dan kokoh dalam mempertahankan prinsip serta memperoleh kemudahan dalam mengembangkan ilmu di masa berikutnya.
Pada tahun 1930, Kiai Yahya akhirnya membina rumah tangga dengan Nyai Siti, yang merupakan putri angkat sekaligus keponakan dari Kiai Ismail dan putra dari Kiai Abdul Majid. Kedua ulama ini merupakan pengasuh generasi kedua pada Pondok Pesantren Gadingkasri Malang.
Nama Pondok Miftahul Huda saat itu, yang kemudian dikenal dengan nama Pondok Gading. Hal ini lah yang menjadi cikal bakal penamaan Kiai Yahya menjadi Kiai Gading.
Kiai Yahya dan Chodijah ini baru benar-benar membangun mahligai rumah tangga yaitu lima tahun setelah akad nikah. Tepatnya pada tahun 1935 dan dikaruniai 11 orang anak.
Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Gading merupakan pondok pesantren tertua yang terletak di Kasri, Klojen, Kota Malang. Pesantren ini didirikan pada tahun 1768 oleh K.H. Hasan Munadi, yang juga turut berperan dalam merebut kemerdekaan RI.
Kiai Munadi selaku pendiri juga sebagai pengasuh dan pengelola pesantren selama 90 tahun, sedang usianya saat itu mencapai 125 tahun.
Untuk generasi kedua, Kiai Ismail mengasuh kurang lebih selama 50 tahun. Dan pada usianya yang ke-75 tahun beliau wafat. Karena Kiai Ismail tidak memiliki putra, maka kepengelolaan pesantren diserahkan oleh Kiai Yahya.
Selama masa kepengurusan oleh Kiai Yahya juga banyak mencapai kesuksesan. Salah satunya yaitu kemampuan Kiai Yahya dalam menjaga dan mempertahankan nilai dan sistem yang selama ini di-ugem (dipegang teguh) oleh para pendiri. Serta juga berhasil membuat perubahan dan revitalisasi di Pondok Pesantren.
Pada masa perang kemerdekaan (1945-1949), beliau juga mampu memanfaatkan otoritas Pondok Gading sebagai sarana perjuangan kemerdekaan, yang mana pada saat itu dibentuk Pasukan pejuang “Garuda Merah”, di bawah pimpinan Brigjen (Purn) K.H. Sullam Syamsun yang menjadikan Pondok Gading sebagai daerah netral. Yang mana daerah ini sebagai tempat persembunyian bagi para pejuang sekaligus pos terdepan untuk penyerangan ke tangsi Belanda atau peledakan fasilitas umum milik Belanda di Kota Malang.
Keberhasilan ini juga menjadi cikal bakal pagi penerus selanjutnya yang dimana Kiai Yahya mempertahankan kharisma Pondok Gading. Sampai saat ini Pondok Gading terkenal dalam bidang pengajaran Kitab Kuning dengan metode Bandongan dan Sorogan. Tak hanya itu, di pondok ini juga mempelajari beberapa literatur seperti ilmu fiqih, tasawuf, ilmu alat (nahwu/sharaf), serta berfokus pada Qadiriyah wa Naqsabiyah. (*)
