KETIK, JAKARTA – Virus Nipah menjadi perbincangan belakangan ini. Bahkan, virus ini disebut berpotensi menjadi sebuah pandemi, seperti Covid-19 beberapa waktu lalu.
Beberapa waktu lalu, virus ini merebak di daerah timur Bengal Barat, negara bagian India. Sekitar 200 orang dikarantina setelah mereka menjalin kontak dengan pasien yang terinfeksi.
Dilansir dari laman Independent, virus ini pertama kali diidentifikasi di peternakan babi di daerah Sungai Nipah, Malaysia, pada 1998-1999 lalu. Kemudian, virus menyebar sampai Singapura dan mengakibatkan lebih dari 276 kasus terkonfirmasi dengan 106 kematian.
Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah negara lain, seperti India, Bangladesh, dan Filipina. Bangladesh tercatat sebagai negara dengan jumlah kasus dan kematian tertinggi akibat virus ini.
Virus Nipah (NiV): Apa Gejalanya?
Virus Nipah (NiV), atau dikenal juga sebagai Henipavirus nipahense, termasuk dalam genus Henipavirus. Virus ini tergolong sebagai penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Hewan yang diketahui menjadi inang alami Virus Nipah adalah kelelawar buah.
Infeksi Virus Nipah sering kali diawali dengan gejala yang bersifat nonspesifik sehingga sulit dideteksi pada tahap awal.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, masa inkubasi virus ini berkisar antara 4 hingga 21 hari, meskipun dalam beberapa kasus terdapat penundaan antara paparan dan munculnya gejala.
Gejala awal yang umumnya dialami penderita menyerupai flu, seperti demam mendadak, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan muntah. Pada tahap lanjutan, gejala dapat berkembang menjadi batuk, sesak napas, pneumonia, pusing, kejang, hingga penurunan kesadaran yang dapat berujung pada koma dalam waktu 24–48 jam.
Tingkat keparahan dan waktu munculnya gejala dapat sangat bervariasi pada setiap penderita.
Komplikasi paling berbahaya dari infeksi virus Nipah adalah peradangan otak atau ensefalitis. Beberapa pasien dengan gejala berat juga dapat mengalami meningitis, yakni peradangan selaput otak dan sumsum tulang belakang akibat infeksi.
Penularan Virus Nipah
Virus Nipah dapat menyebar melalui beberapa jalur penularan, antara lain:
- Kontak Langsung dengan Hewan
Penularan dapat terjadi ketika manusia melakukan kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar buah dan babi. Kontak ini bisa melalui sentuhan cairan tubuh hewan atau produk hewan yang terkontaminasi.
- Penularan Antarmanusia
Virus Nipah dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak langsung dengan penderita, terutama melalui air liur atau sekresi pernapasan.
- Makanan Terkontaminasi
Konsumsi makanan yang telah terpapar virus Nipah juga dapat menyebabkan infeksi.
- Kontak dengan Benda Terkontaminasi
Virus Nipah diketahui dapat bertahan pada benda-benda yang terkontaminasi cairan tubuh manusia atau hewan yang terinfeksi.
Bahaya Virus Nipah
Virus Nipah dapat menyebabkan spektrum penyakit yang luas, mulai dari infeksi tanpa gejala hingga penyakit pernapasan akut dan ensefalitis yang berujung fatal.
Virus ini memiliki tingkat kematian yang tinggi dan menjadi ancaman serius bagi dunia kesehatan. Tingkat fatalitas kasus dilaporkan berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung pada wabah dan jenis virus yang terlibat.
Badan Keamanan Kesehatan Inggris menyebut bahwa para penyintas infeksi virus Nipah berisiko mengalami gangguan neurologis jangka panjang, seperti kejang berkepanjangan. Dalam kasus yang jarang terjadi, ensefalitis juga dilaporkan dapat kambuh berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah infeksi awal, baik akibat kekambuhan penyakit maupun reaktivasi virus. (*)
