KETIK, SURABAYA – Di tengah tantangan global terkait krisis pangan dan keterbatasan sumber daya, mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Yulia Rahmawati, menghadirkan gagasan segar untuk memperkuat ketahanan pangan berkelanjutan.
Dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,86, Yulia meneliti peran pupuk organik dan rumah burung hantu sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga ekosistem.
Dalam penelitiannya, Yulia menemukan bahwa pupuk organik mampu menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang, mengembalikan unsur hara, dan menekan biaya produksi petani.
Di sisi lain, rumah burung hantu menjadi strategi alami untuk mengendalikan populasi tikus yang kerap merusak hasil panen.
“Dengan adanya rumah burung hantu, populasi tikus di sawah bisa ditekan secara alami tanpa pestisida. Hal ini selaras dengan tujuan ketahanan pangan berkelanjutan, yaitu menjaga keberlanjutan untuk masa depan sekaligus meningkatkan hasil panen,” jelas Yulia pada Selasa 26 Agustus 2025.
Isu ketahanan pangan saat ini menjadi perhatian besar pemerintah.
Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya swasembada pangan dan keberlanjutan sektor pertanian.
Temuan Yulia selaras dengan agenda tersebut karena menawarkan model pertanian yang ramah lingkungan, hemat biaya, dan berkelanjutan.
Melalui metode SEM-PLS dan model sistem dinamis menggunakan perangkat lunak Smart-PLS serta Stella, Yulia menganalisis faktor ekonomi, sosial, dan lingkungan berdasarkan teori Triple Bottom Line.
Model yang ia rancang mampu memproyeksikan kondisi ketahanan pangan di tingkat desa hingga beberapa tahun ke depan.
“Saya turun langsung ke lapangan, mewawancarai petani, hingga membuat simulasi skenario perbaikan. Harapannya, hasil penelitian ini bisa menjadi panduan praktis dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan,” tambahnya.
Observasi yang dilakukan di Desa Bendosewu dan Desa Kaweron, Kabupaten Blitar, menunjukkan integrasi pupuk organik dengan pemeliharaan burung hantu berdampak ganda memperbaiki kualitas tanah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui penurunan biaya produksi.
Model ini juga dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan pestisida kimia, sekaligus membuka peluang peningkatan profit petani di masa depan.
Karya skripsi Yulia diapresiasi sebagai salah satu penelitian mahasiswa paling relevan, karena memadukan ilmu pertanian, ekologi, dan teknologi.
Penelitian ini dinilai tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi juga layak diterapkan di berbagai desa sebagai strategi nasional memperkuat ketahanan pangan.
“Harapan saya, skripsi ini bisa diimplementasikan di banyak desa. Jika petani sejahtera, maka ketahanan pangan Indonesia akan semakin kuat,” ungkap Yulia.
Yulia akan diwisuda pada 30 Agustus 2025 mendatang bersama ratusan mahasiswa Untag Surabaya lainnya. Momen ini menjadi istimewa karena skripsi yang ia hasilkan tidak hanya menjadi pencapaian akademis, melainkan juga tawaran solusi nyata bagi ketahanan pangan nasional.(*)
Mahasiswa Untag Surabaya Teliti Pupuk Organik dan Rumah Burung Hantu sebagai Solusi Ketahanan Pangan Berkelanjutan
26 Agustus 2025 15:44 26 Agt 2025 15:44
Mahasiswi Program Studi Teknik Industri Untag Surabaya Yulia Rahmawati. (Foto: Shinta Miranda/Ketik)
Trend Terkini
24 Februari 2026 15:43
Setelah Penantian Panjang, Gate Parkir Alun-Alun Kota Batu Akhirnya Beroperasi
26 Februari 2026 15:56
Tak Lagi Bisa Parkir Sembarangan, Simpang Jalan Eks PJKA Sleman Kini Dipasangi Water Barrier
24 Februari 2026 04:09
DPPKP Pemalang Tegaskan Pemberhentian Korlap Jukir Comal Sesuai Ketentuan
24 Februari 2026 17:11
Dua Desa di Pacitan Disiapkan untuk Proyek PLTA Pumped Storage 1000 MW
23 Februari 2026 13:15
Menu MBG Berisi Singkong dan Kacang di Probolinggo Jadi Sorotan, Wali Murid: Nilainya Paling Rp4 Ribu
Tags:
Untag Surabaya Yulia Rahmawati ketahanan pangan pupuk organik Rumah Burung Hantu Pertanian surabayaBaca Juga:
Catat Waktunya! Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Capai Puncak 18.33 WIBBaca Juga:
Bukan Cimol Biasa! Bumbu yang Khas dan Rasa Gurih Daun Jeruk Jadi Favorit Mahasiswa UINSABaca Juga:
Gelang Kokka, Benda yang Dipercaya Memiliki Kekuatan Spiritual dari Timur TengahBaca Juga:
Wabup Lumajang: Lahan HGU Diharapkan Jadi Fondasi Ketahanan PanganBaca Juga:
Setiap Hari 1.000 Porsi Ludes, Buka Bersama di Masjid Al Falah Surabaya Diserbu JemaahBerita Lainnya oleh Shinta Miranda
30 Oktober 2025 15:28
Banyaknya Keluhan Masyarakat Soal Motor Brebet, DPRD Surabaya Dorong Pertamina Tak Hanya Minta Maaf
29 Oktober 2025 05:15
Pendidikan untuk Siapa? Petani Kedung Cowek Terancam Tergusur Demi Sekolah Rakyat
28 Oktober 2025 21:11
Makna Baru Sumpah Pemuda Menurut Yona Bagus: Gen Z Hadapi Perang Pikiran dan Inovasi
28 Oktober 2025 19:05
Marak Konten Mihol, Pemkot Surabaya Minta Influencer Tak Jadi Corong Iklan
28 Oktober 2025 18:57
Benang Emas, Saat Mesin Jahit Mengubah Nasib Ratusan Warga MBR Surabaya
