Dunia melewati satu garis penting dan kali ini nyaris tanpa perdebatan. Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, beserta istrinya, lalu dibawa ke Amerika Serikat, bukan sekadar akhir dari satu rezim Amerika Latin. Ini adalah penanda normalisasi kekerasan geopolitik terhadap kedaulatan negara, dilakukan terbuka, cepat, dan nyaris tanpa rasa bersalah.
Amerika Serikat tak lagi cukup menjatuhkan pemerintahan melalui sanksi, tekanan ekonomi, atau oposisi lokal. Kini, kepala negara bisa diambil langsung, seolah dunia kembali ke hukum rimba—dengan bahasa demokrasi sebagai pembungkusnya.
Ini bukan kemenangan nilai. Ini adalah pergeseran metode kekuasaan.
Dunia yang Sedang Kehilangan Rem
Peristiwa Venezuela terjadi ketika dunia berada di titik nyaris tak terkendali. Perang Rusia–Ukraina memasuki fase terpanas simbolik dengan serangan drone ke kediaman Putin, menggoyahkan ilusi keamanan Kremlin. Iran diguncang demonstrasi besar akibat fokus anggaran militer besar abai pada kesejahteraan rakyat, inflasi kronis, krisis ekonomi, dan runtuhnya nilai Rial —sanksi berubah menjadi bom sosial.
Di Timur Tengah, Arab Saudi terus menggempur Yaman. Sementara ancaman terhadap UEA menunjukkan rapuhnya stabilitas Kawasan Teluk. Di Asia Timur, Selat Taiwan dipenuhi pengerahan militer Tiongkok dalam skala besar, menguji kesabaran Amerika.
Dalam lanskap ini, Venezuela bukan anomali. Ia adalah contoh yang disengaja memulai perang tanpa proxy demi tujuan super strategis.
Ambisi Trump’s Oligarch
Selama bertahun-tahun, Washington mengepung Caracas dengan sanksi yang melumpuhkan ekonomi dan menghukum rezim. Penangkapan Maduro menandai eskalasi doktrinal: dari perubahan rezim tidak langsung menuju penghapusan rezim secara terbuka.
Tak ada lagi narasi senjata pemusnah massal. Tak ada lagi dalih kemanusiaan. Pesannya sederhana dan telanjang: kedaulatan tidak melindungi siapa pun ketika bertabrakan dengan kepentingan kekuatan besar.
Dalam bahasa Carl Schmitt, Amerika bertindak sebagai penentu “pengecualian”—memutuskan kapan hukum berlaku dan kapan boleh disingkirkan.
Bagi Amerika, Venezuela memiliki sumber daya alam yang sangat strategis dan berlimpah yang dibutuhkan menopang pembangunan mega industri AI yang telah memberi kontribusi pertumbuhan PDB +-1,1% di tahun 2025 dan memperlancar re-industrialisasi Trump. Oleh sebab itu, rezim Maduro harus cepat disingkirkan sebelum jatuh ke tangan China dan Rusia.
Tidak heran tokoh oposan terkemuka Venezuela, Maria Corrina, yang juga peraih Nobel Perdamaian 2025 menyambut antusias jatuhnya Maduro dan menyatakan Venezuela membuka seluas-luasnya bagi perusahaan Amerika untuk berinvestasi di semua sektor bisnis.
Kekuasaan Menurut Arendt dan Chomsky
Hannah Arendt mengingatkan bahwa kekuasaan dan kekerasan bukan hal yang sama. Kekuasaan lahir dari legitimasi dan persetujuan; kekerasan muncul ketika legitimasi runtuh. Kekerasan, tulis Arendt, mungkin efektif menghancurkan, tetapi tak pernah mampu membangun tatanan yang bertahan lama.
Penangkapan Maduro adalah pengakuan diam-diam atas kegagalan legitimasi itu. Ia mungkin menjatuhkan satu figur, tetapi tidak otomatis menciptakan stabilitas. Venezuela adalah negara rapuh: institusi lemah, masyarakat terbelah, ekonomi hancur. Menghilangkan kepala negara tanpa arsitektur transisi yang sah hanya membuka kekosongan kekuasaan—dan sejarah menunjukkan, kekosongan semacam itu jarang diisi demokrasi.
Irak, Libya, dan Afghanistan sudah lebih dari cukup sebagai peringatan.
Di titik inilah pemikiran Noam Chomsky menjadi relevan. Selama puluhan tahun, Chomsky menegaskan bahwa politik luar negeri Amerika tidak digerakkan oleh demokrasi, melainkan oleh kepentingan—dan bahasa moral digunakan untuk menutupi tindakan yang secara esensial koersif.
Dalam banyak tulisannya, Chomsky berulang kali menyebut bahwa hukum internasional sering kali diberlakukan secara selektif: musuh dihukum, sekutu dimaafkan. Negara kecil diminta patuh pada norma; negara besar merasa berhak melanggarnya.
Penangkapan Maduro memperkuat tesis itu. Jika tindakan semacam ini dilakukan oleh negara non-Barat, ia akan disebut penculikan, agresi, atau kejahatan internasional. Ketika dilakukan Amerika, ia dipresentasikan sebagai penegakan keadilan.
Meminjam semangat Chomsky, “manufacturing consent” dalam skala global: publik diyakinkan bahwa kekerasan adalah keharusan, dan bahwa tak ada alternatif.
Standar Ganda Medvedev dan Dunia Tanpa Wasit
Reaksi Dmitry Medvedev atas penangkapan Maduro—bahwa senjata nuklir adalah perlindungan paling efektif dari agresi—terdengar sinis, namun justru jujur. Ini bukan ancaman, melainkan diagnosis: hukum internasional telah kehilangan daya lindungnya.
Pesannya mengerikan, namun jelas: negara tanpa daya tangkal strategis adalah negara yang presidennya bisa dibawa pergi.
Jika ini menjadi norma, dunia sedang menuju perlombaan senjata, bukan perdamaian. Dalam dunia seperti ini, non-proliferasi berubah dari idealisme menjadi risiko eksistensial.
Pesan Medvedev melanggar janji bangsanya sendiri atas keluguan Ukraina yang menerima Perjanjian Budapest tahun 1994 untuk menghapus arsenal senjata nuklir warisan Uni Soviet (saat itu yang terbesar ketiga di dunia) yang integritas wilayahnya dijamin oleh tiga negara, yakni: Amerika, Rusia, dan Inggris.
Bila Ukraina masih memiliki senjata nuklir, apakah mungkin Operasi Militer Khusus Rusia pada 24 Februari 2022 terjadi? Aneksasi Krimea pada 2014? atau Revolusi maidan 2013 karena Presiden Viktor Yanukovych menjadi boneka Rusia?
Halaman Belakang yang Tak Lagi Diam
Venezuela selalu diperlakukan sebagai “halaman belakang” Amerika. Namun halaman belakang yang terus diinjak suatu saat akan melawan. Penangkapan Maduro berisiko menghidupkan kembali sentimen anti-Amerika di Amerika Latin. Brasil, Meksiko, dan Kolombia akan menghitung ulang jarak strategis mereka dengan Washington. Rusia dan China akan memanfaatkan momen ini sebagai bukti bahwa Amerika bukan penjaga tatanan global, melainkan aktor agresif dengan standar ganda.
Amerika mungkin menang cepat secara militer. Namun dalam geopolitik, kemenangan sejati diukur dari legitimasi, bukan kecepatan operasi.
Penutup
Penangkapan Maduro menutup satu ilusi penting: bahwa dunia masih diatur oleh norma bersama. Yang tersisa adalah realitas pahit bahwa kekuatanlah yang menentukan sah dan tidak sah.
Ini bukan dunia demokrasi melawan otoritarianisme. Ini adalah dunia siapa kuat, dia sah.
Dan seperti diingatkan Arendt, kekerasan mungkin mampu menghancurkan. Tetapi—seperti juga ditegaskan Chomsky—ia hampir selalu menyisakan reruntuhan, dendam, dan ketidakstabilan jangka panjang.
Hari ini Venezuela. Besok, siapa?
*) Bernard Haloho adalah Direktur Eksekutif Indonesia Democracy Bridge Research Institute (Ind-Bri)
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
*) Ketentuan pengiriman naskah opini:
Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
Panjang naskah maksimal 800 kata
Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
