Kisah Abdullah Nurawi, Temukan Hidayah Islam di Tengah Lingkungan Toleransi Surabaya

8 Maret 2026 16:32 8 Mar 2026 16:32

Thumbnail Kisah Abdullah Nurawi, Temukan Hidayah Islam di Tengah Lingkungan Toleransi Surabaya

Masjid Muhammad Cheng Hoo ketika menggelar kegiatan berbagi zakat kepada masyarakat Surabaya, menyambut Ramadan. (Foto: dok Masjid Muhammad Cheng Hoo, Surabaya)

KETIK, SURABAYA – Tumbuh besar di kawasan Ampel, Surabaya yang merupakan salah satu pusat napas Islam berdegup kencang. Ajaran agama Islam sejatinya tidak asing bagi H Abdullah Nurawi atau yang memiliki nama lahir Yang Yuhanhui.

Ia tumbuh di lingkungan dengan nuansa agama Islam yang kental. Seiring berjalannya waktu, hidayah datang kepada dirinya. Hingga akhirnya Pak Awi-sapaannya hijrah memeluk agama Islam.

"Saat itu saya masuk Islam sekitar tahun 1997. Penyebabnya ya karena suatu hidayah. Islam bagi saya bukan sesuatu yang asing juga," katanya kepada Ketik.com, Minggu 8 Maret 2026.

Usai memeluk agama Islam, Awi langsung mengikuti sejumlah kegiatan keagamaan. Tujuannya adalah untuk memperbanyak ilmu agama dan terus belajar.

Pria lima bersaudara ini akhirnya bisa dipertemukan dengan komunitas Tionghoa di Masjid Muhammad Cheng Hoo, Surabaya.

"Saya baru masuk di organisasi pun enggak secara langsung karena pada waktu itu saya belum pernah dengar organisasi (Cheng Hoo) itu. Sekarang usia Masjid Cheng Hoo sudah 24 tahun," lanjutnya.

Foto Ketua umum Yayasan Haji Muhammad Chenghoo Indonesia, H Abdullah Nurawi (kanan) (Foto: Shinta Miranda/Ketik.com)Ketua umum Yayasan Haji Muhammad Chenghoo Indonesia, H Abdullah Nurawi (kanan) (Foto: Shinta Miranda/Ketik.com)

Ia mengungkapkan, saat ini keinginan yang ingin dilakukan adalah memperkenalkan Islam kepada semua masyarakat. Bahwa sebenarnya Islam merupakan agama yang penuh kasih.

"Kami hanya ingin mengenalkan kepada teman-teman, saudara-saudara non-muslim bahwa sebenarnya ajaran agama Islam ini adalah agama yang penuh kasih, yang penuh perhatian. Jadi bukan yang banyak masyarakat mengatakan ekstrem dan lain sebagainya," tuturnya.

Maka dari itu, ia yang kini menjawab sebagai Ketua Umum Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia, periode kedua itu ingin mengatakan bahwa Masjid Cheng Hoo merupakan masjid yang bertoleransi.

"Karena masjid yang dibangun tahun 2002 itu juga dari bantuan komunitas Tionghoa waktu itu," kata pria berkacamata ini.

Masjid Muhammad Cheng Hoo, Surabaya terus aktif memberikan bantuan terhadap masyarakat miskin, seperti memberikan zakat. Selain itu selama Ramadan, masjid ini juga mengadakan salat tarawih dengan 8 dan 20 rakaat. (*)

Tombol Google News

Tags:

Cheng Hoo profil Nurawi Abdullah Nurawi Mualaf Abdullah Nurawi mualaf Cheng Hoo Surabaya