KETIK, SURABAYA – Pesatnya dunia digital, terutama media sosial membuat semuanya seakan tidak ada batasan mengenal budaya satu sama lain. Fenomena ini memang membawa dampak positif, namun tanpa filter yang kuat, budaya asli Indonesia berisiko kian tergerus.
Berangkat dari keresahan tersebut, sejumlah elemen masyarakat membentuk sebuah Komite Pemersatu Suku dan Etnis Nusantara. Pembentukan komite ini berlangsung pada Minggu, 8 Maret 2026 di Surabaya
Ketua Komite Pemersatu Suku dan Etnis Nusantara, Grave Evi Ekawati, mengatakan organisasi ini lahir dari kepedulian untuk menyatukan berbagai etnis sekaligus memperkenalkan budaya masing-masing.
Langkah ini diharapkan mampu membentengi generasi muda dari gempuran konten global di media sosial agar mereka tetap mengenali jati diri bangsanya.
Evi memaparkan, agenda terdekat komite adalah menyambut peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus mendatang.
"Kami berharap perayaan Agustus nanti dapat menampilkan berbagai kesenian daerah karena kami ingin menanamkan nilai nasionalisme kepada generasi muda. Saat ini banyak anak-anak yang bahkan tidak mengenal hari daerah atau permainan tradisional seperti dakon, padahal itu merupakan budaya yang sangat melekat dengan kita," ungkapnya.
Selain menjadi wadah silaturahmi, komite ini diharapkan menjadi ruang pertukaran budaya yang mampu mendorong roda ekonomi masyarakat, khususnya melalui pengembangan sektor UMKM.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Anggota DPRD Jawa Timur, Yordan M. Batara Goa. Ia memberikan apresiasi tinggi dan menilai kehadiran organisasi ini sebagai cermin kerinduan masyarakat akan suasana yang damai dan rukun.
“Kami menyambut baik dan mendukung terbentuknya komite pemersatu suku dan etnis Nusantara ini. Ini menjadi bukti bahwa masyarakat merindukan kondisi yang damai, guyub, bersatu, dan bersinergi,” ujar Yordan.
Ia menegaskan perbedaan suku dan etnis di Indonesia adalah kekuatan besar. Perbedaan tidak semestinya memicu perpecahan, melainkan harus dimaknai sebagai kekayaan untuk memperkuat persatuan bangsa.
"Jika perbedaan tersebut dapat dikomunikasikan dan dikelola dengan baik, kita bisa melakukan sesuatu yang luar biasa untuk kemajuan bangsa," pungkasnya. (*)
