KETIK, SURABAYA – Peringatan Isra Mikraj di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) pada Jumat, 16 Januari 2026, menjadi momen bersejarah bagi tiga orang yang secara resmi menyatakan diri masuk Islam.
Ketiganya sebelumnya merupakan pemeluk agama Hindu, Katolik, dan Protestan.
Prosesi ikrar masuk Islam dilaksanakan di hadapan jamaah Salat Jumat dan dipandu langsung Imam Salat Jumat MAS, DR KH A Nasikh Hidayatullah Alhafidz.
Tiga mualaf tersebut adalah Nyoman Putri Septa Ayu N (24), penganut Hindu asal Griya Kebraon Utara, Karangpilang, Surabaya, Iqbal Pambudi Sutomo (28), sebelumnya beragama Kristen Protestan dan berdomisili di Tambak Rejo, Waru, Kabupaten Sidoarjo, serta Reno Andriawan (30), pemeluk Kristen Katolik asal Jalan Flamboyan, Sumber Pucung, Kabupaten Malang.
Dalam tausiyahnya, KH A Nasikh Hidayatullah menyampaikan rasa syukur atas bertambahnya saudara seiman di momen peringatan Isra Mikraj tersebut.
“Saat ini, kita bersyukur karena bertambah saudara seiman, dengan adanya hamba-hamba Allah yang kembali ke fitrah Allah. Fitrah manusia itu memang mengakui Allah sebagai Tuhan, tapi dalam perjalanan menjadi non-Muslim, dan hari ini kembali. Jalan masuk Islam itu macam-macam, semoga Muslim hingga akhir,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa Islam menghapus seluruh dosa yang dilakukan seorang mualaf sebelum memeluk Islam. Dengan demikian, para mualaf memulai kehidupan baru dalam keadaan suci.
Bahkan, amal-amal kebaikan yang sempat tertunda pahalanya akan dikembalikan oleh Allah SWT. Penjelasan tersebut disampaikan KH A Nasikh Hidayatullah yang didampingi Sekretaris Badan Pengelola Pleno (BPP) MAS, H Helmy M Noor.
Pada kesempatan yang sama, Nyoman Putri Septa Ayu mengungkapkan bahwa dirinya merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara dan menjadi satu-satunya anggota keluarga yang memilih memeluk Islam.
“Saya sendiri yang masuk Islam, tapi saya masuk Islam tanpa ada yang memaksa,” kata Nyoman Putri.
Pengalaman serupa disampaikan Iqbal Pambudi Sutomo. Ia mengisahkan latar belakang keluarganya yang berbeda keyakinan hingga akhirnya kembali memeluk Islam.
“Bapak saya memang Muslim tapi Bapak sudah wafat, sedangkan Ibu non-Muslim. Saya pindah ke Kristen karena ikut Ibu, tapi saat masih kecil sebenarnya Muslim. Kalau sekarang kembali ke Muslim itu merupakan hasil pergumulan dalam diri saya yang cukup lama,” tuturnya.
Sementara itu, Reno Andriawan juga membagikan perjalanan batinnya sebelum memutuskan masuk Islam.
“Bapak semula Muslim, tapi pindah ke Katolik, sehingga saya yang tiga bersaudara ikut Ibu menjadi Katolik. Saya sudah sekitar lima tahunan jarang ke gereja dan sekarang bertemu calon istri yang Muslim. Jadi, saya masuk Islam bukan karena paksaan, tapi proses yang sudah lama,” katanya.
Momen ikrar tiga mualaf tersebut menambah kekhusyukan peringatan Isra Mikraj di Masjid Al-Akbar Surabaya, sekaligus menjadi pengingat akan perjalanan spiritual setiap manusia dalam menemukan keyakinannya.(*)
