KETIK, MALANG – Sosok Mbah Honggo atau Pangeran Honggo Koesoemo dikenal sebagai salah satu tokoh penyebaran Islam di Malang. Makamnya yang terletak di kawasan Kampung Heritage Kayutangan, hingga kini masih kerap diziarahi warga.
Tokoh yang disebut berasal dari kalangan bangsawan Jawa ini dipercaya datang ke Malang pada masa kolonial, setelah Pangeran Diponegoro tertangkap oleh Belanda.
Di Kota Malang, Mbah Honggo tidak hanya bersembunyi dari kejaran penjajah, tetapi juga aktif berdakwah dan membina masyarakat melalui pendidikan agama.
Muhammad Zaelani, cucu juru kunci makam Mbah Honggo, menuturkan bahwa perjuangan tokoh tersebut dilakukan melalui dakwah dan pendidikan agama kepada masyarakat.
“Misinya waktu itu ya mungkin perjuangan juga, seperti gerilya. Karena beliau orang alim, jadi mengajari orang-orang sekitar untuk mengaji. Kebetulan bupati Malang yang pertama itu, Eyang Honggo sebagai guru ngajinya,” ujar Zaelani.
Menurut Zaelani, peran sebagai guru ngaji tersebut menjadikan Mbah Honggo sosok yang berpengaruh di tengah masyarakat. Selain menyebarkan ajaran Islam, ia juga dikenal sebagai figur pejuang yang berusaha mempertahankan nilai keagamaan dan budaya di tengah situasi penjajahan.
“Selain sebagai guru ngaji, Mbah Honggo juga sebagai pejuang,” tambahnya.
Informasi yang terpasang di area makam menyebutkan bahwa Mbah Honggo memiliki hubungan dengan bangsawan Jawa dan pernah terkait dengan masa perjuangan di era kolonial, termasuk periode setelah Perang Diponegoro. Setelah menetap di Malang, ia dikenal sebagai ulama karismatik serta guru spiritual keluarga bupati pertama Malang.
Hingga kini, makam Mbah Honggo di kawasan Kauman, tak jauh dari Masjid Jami' Kota Malang, menjadi salah satu situs religi yang menyimpan jejak sejarah penyebaran Islam di kota ini. Warga setempat masih merawat kawasan tersebut sebagai bagian dari warisan budaya dan spiritual Kampung Heritage Kayutangan. (*)
