KETIK, MALANG – Makam Mbah Honggo, seorang tokoh yang diyakini sebagai sesepuh pendiri Kampung Kayutangan, kini bertransformasi menjadi salah satu ikon utama dan destinasi wisata religi di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang.
Berada di jantung Kawasan Heritage Kayutangan yang ramai, makam ini tak hanya menyimpan kisah leluhur Malang tetapi juga menghadirkan nuansa sakral di tengah geliat wisata modern.
Sebelum Kampung Kayutangan ditetapkan sebagai destinasi wisata, Makam Mbah Honggo hanyalah sebuah makam kuno yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari warga. Bahkan, area di sekitar makam yang cukup luas kerap dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan.
Keterbatasan informasi historis membuat makam ini tidak memiliki ritual atau hari khusus untuk ziarah dari warga lokal.
"Saya lahir di sini dari kecil sampai besar tidak ada perayaan di makam atau ziarah tiap tanggal apa. Dulu hanya paham ini makam, begitu saja. Jadi tidak ada ritual khusus dari warga sekitar sini," ujar Mila, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Heritage Kayutangan.
Bahkan, ia menambahkan, pernah pula diadakan permainan tinju di samping makam tersebut.
Titik balik terjadi setelah Kampung Kayutangan menjadi destinasi wisata yang ramai. Banyak pengunjung, terutama dari luar kota, mulai menanyakan dan berniat berziarah ke Makam Mbah Honggo, menganggapnya sebagai tokoh agama atau leluhur yang dihormati.
Karena banyaknya pertanyaan, Pokdarwis yang dipimpin Mila mulai berinisiatif menggali informasi dan berdiskusi dengan sejarawan untuk mendokumentasikan asal-usul Mbah Honggo.
Uniknya, sejumlah pengunjung mengaku sebagai keturunan Mbah Honggo.
"Banyak yang mengaku keturunan, ada yang dari Sidoarjo, ada yang dari Surabaya. Saya tidak tahu kebenarannya karena tidak ada data silsilah keluarga itu tadi," ungkap Mila.
Meskipun kini menjadi ikon wisata, Makam Mbah Honggo menghadapi kendala untuk ditetapkan sebagai cagar budaya. Salah satu faktor utamanya adalah kurangnya data dan dokumen otentik yang dapat membuktikan silsilah dan peran Mbah Honggo secara resmi.
"Saya tidak punya bukti otentiknya. Kemarin juga kenapa Makam Mbah Honggo tidak bisa ditetapkan menjadi cagar budaya, ya salah satunya saya tidak bisa menunjukkan dokumen," kata Mila.
Terlepas dari tidak adanya ritual khusus, Mila memastikan bahwa Pokdarwis dan warga Kayutangan tetap menjunjung tinggi adab dan menghormati situs tersebut.
"Meskipun dari kampung ini tidak rutin ziarah atau tawasul, Kami mempersilahkan untuk pengunjung yang ingin tawasul di Makam Mbah Honggo," tegasnya.
Meskipun Makam Mbah Honggo belum dapat ditetapkan sebagai cagar budaya karena kendala dokumentasi, situs ini telah berhasil menjalankan peran pentingnya. Makam ini kini menjadi ikon tak terpisahkan dari Kampung Heritage Kayutangan, sekaligus menjadi jembatan bagi masyarakat luas, terutama generasi muda, untuk kembali mengenal dan menghargai pendahulu Kota Malang. (*)
